33 Program Dokter Spesialis Diluncurkan di Jateng-DIY, Perkuat Program Speling PemprovNALARMEDIA.COM – Konsorsium Perguruan Tinggi Wilayah IV yang meliputi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta resmi meluncurkan 33 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Program Pendidikan Dokter Sub Spesialis (PPDSS) baru. Peluncuran digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis (12/2/2026).
Program tersebut diinisiasi untuk menjawab kebutuhan dokter spesialis di Indonesia yang hingga kini masih belum merata. Lima perguruan tinggi terlibat dalam penyelenggaraan program ini, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Adapun bidang studi yang dibuka meliputi jantung dan pembuluh darah, bedah, ilmu kesehatan anak, obstetri dan ginekologi, anestesiologi, patologi, rehabilitasi medik, hingga kedokteran keluarga layanan primer.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut baik peluncuran tersebut. Menurutnya, percepatan produksi dokter spesialis sangat dibutuhkan untuk mendukung program cek kesehatan gratis dari pemerintah pusat serta program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang diinisiasi Pemprov Jateng.
“Saya sebagai Gubernur sangat mendukung kegiatan ini dan harus segera ditindaklanjuti. Semakin cepat semakin baik, karena kebutuhan itu nyata di lapangan,” ujar Luthfi.
Ia mengaku, kebutuhan dokter spesialis sangat terasa saat dirinya meninjau pelaksanaan program Speling di berbagai desa. Untuk mengatasi keterbatasan tenaga, pihaknya bahkan mendorong pelatihan singkat dari dokter spesialis kepada dokter umum di puskesmas.
Selain itu, Pemprov Jateng juga menginstruksikan seluruh rumah sakit di wilayahnya untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, guna mempercepat pencetakan dokter spesialis yang siap mendukung program layanan kesehatan gratis.
“Ini langkah strategis. Rekan-rekan yang menempuh pendidikan spesialis kalau bisa dipercepat kelulusannya, sehingga dapat segera mengabdi di wilayah kita,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menambahkan bahwa pendidikan dokter spesialis dan subspesialis kini dapat ditempuh melalui dua jalur, yakni berbasis universitas (university based) dan berbasis rumah sakit (hospital based). Skema ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah lulusan secara signifikan.
“Kami mengajak rumah sakit dan perguruan tinggi untuk terus bersinergi dalam memproduksi dokter spesialis dan subspesialis agar akses layanan kesehatan masyarakat semakin merata,” katanya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Mendiktisaintek sekaligus Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Tri Hanggono Achmad, menegaskan bahwa pembukaan program studi baru ini bukan sekadar penambahan kapasitas akademik, tetapi bagian dari misi kemanusiaan.
Menurutnya, pemerintah menargetkan percepatan pemenuhan rasio dokter spesialis yang masih belum ideal, khususnya di luar Pulau Jawa dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (4T).
“Kolaborasi perguruan tinggi di Jateng dan DIY ini menjadi bukti nyata sinergi akademik dalam menjamin kesehatan bangsa. Peluncuran serupa juga dilakukan di sejumlah daerah lain hari ini,” tandasnya. (*)