Cedera Olahraga Meningkat, RS Telogorejo Andalkan Teknologi Minim Sayatan untuk Percepat Pemulihan

waktu baca 2 menit
Selasa, 31 Mar 2026 14:35 12 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Tren olahraga sebagai gaya hidup di tengah masyarakat ternyata membawa konsekuensi meningkatnya risiko cedera. Baik olahraga kontak seperti bela diri maupun non-kontak seperti tenis, padel, pickleball, dan bulu tangkis, memiliki potensi cedera dengan pola yang berbeda.

Seorang narasumber dari RS Telogorejo menjelaskan, cedera olahraga secara umum terbagi menjadi dua kategori, yakni kontak dan non-kontak. “Olahraga kontak seperti martial art, boxing, muay thai, hingga jujitsu memiliki risiko benturan langsung. Sementara non-kontak seperti tenis, padel, pickleball, dan badminton lebih sering menimbulkan cedera akibat gerakan berulang atau teknik yang kurang tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terlihat dari menjamurnya fasilitas olahraga baru, seperti lapangan padel. Namun di sisi lain, hal ini juga berbanding lurus dengan meningkatnya risiko cedera.

“Yang penting bukan menghindari olahraga, tapi bagaimana mempersiapkan diri dengan benar. Pemanasan yang baik dan penguatan otot yang tepat sangat penting untuk meminimalkan cedera,” jelasnya.

Dalam menghadapi tren tersebut, RS Telogorejo mengaku telah melakukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan layanan penanganan cedera olahraga. Salah satu inovasi yang diunggulkan adalah penggunaan teknik operasi minimal invasif atau arthroscopy.

“Untuk kasus seperti cedera ACL pada lutut, kami sudah menggunakan teknik minimal invasif dengan luka kurang dari 1 sentimeter. Tujuannya agar trauma jaringan lebih kecil sehingga proses pemulihan bisa lebih cepat,” terangnya.

Teknologi ini dinilai sangat penting, terutama bagi atlet profesional yang memiliki waktu terbatas untuk pemulihan. Dalam satu musim kompetisi, atlet hanya memiliki jeda singkat untuk pemulihan jika mengalami cedera.

“Dengan pendekatan ini, mulai dari operasi hingga fisioterapi bisa dilakukan dalam waktu yang lebih efisien, sehingga atlet bisa kembali bertanding di musim berikutnya,” tambahnya.

Selain tindakan operasi, RS Telogorejo juga menyediakan layanan sport fisioterapi yang dirancang khusus untuk pasien cedera olahraga. Layanan ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memastikan pasien dapat kembali berolahraga dan bahkan berprestasi.

“Kami menggunakan pendekatan multidisiplin, melibatkan tim dokter dan tenaga medis. Targetnya bukan sekadar sembuh, tapi pasien bisa kembali aktif bahkan mencapai performa terbaiknya,” pungkasnya. (*)

LAINNYA
x