Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Percepatan Penanganan Longsor di Brebes

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Mar 2026 06:18 15 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung lokasi tanah longsor di Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, pada Rabu (11/3/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan dampak bencana dapat segera dilakukan agar tidak semakin meluas hingga ke kawasan permukiman warga.

Dalam peninjauan itu, Ahmad Luthfi didampingi Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro, serta Kepala Dinas Pendidikan Sadimin.

Diketahui, peristiwa longsor di wilayah tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak 1 Maret 2026. Curah hujan yang tinggi menyebabkan debit Sungai Longkrang meningkat sehingga arus sungai menggerus tebing. Kondisi tersebut memicu kejenuhan tanah yang akhirnya menyebabkan longsor.

Situasi semakin memburuk ketika hujan deras kembali terjadi pada 8 Maret 2026. Aliran sungai kembali mengikis tebing hingga memicu longsor yang merusak badan jalan dan merobohkan sejumlah bangunan di SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut.

Setelah melihat langsung kondisi terbaru di lokasi longsor yang menyebabkan jalan penghubung antar desa dan kecamatan ambrol, Ahmad Luthfi langsung menggelar rapat koordinasi penanganan di lokasi bersama para pemangku kepentingan dan perwakilan masyarakat.

“Jalan ini harus segera diperbaiki. Secara teknis akan didiskusikan terlebih dahulu karena statusnya jalan kabupaten. Provinsi akan memberikan intervensi, sementara kabupaten menyiapkan alternatif langkah yang bisa dilakukan,” ujar Luthfi saat memberikan arahan dalam rapat tersebut.

Selain penanganan jalan, Luthfi juga meminta percepatan perbaikan SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan yang turut terdampak bencana. Longsor tersebut menyebabkan bangunan kamar mandi roboh dan sejumlah bangunan lain berada dalam kondisi terancam.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar sementara dipindahkan ke Gedung Madrasah Diniyah Muhammadiyah Desa Cilibur yang berjarak sekitar 200–300 meter dari lokasi longsor.

“Anak-anak tidak boleh sampai berhenti sekolah. Kepala sekolah segera melaporkan kebutuhan yang diperlukan kepada dinas. Walaupun kewenangan SMP ada di kabupaten, provinsi akan ikut membantu,” kata Luthfi.

Ia juga menekankan agar rencana relokasi SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan dapat segera diproses karena kegiatan pendidikan tidak dapat menunggu terlalu lama.

Sementara itu, Kepala DPUPR Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro menyampaikan bahwa terdapat dua alternatif penanganan jalan yang terdampak longsor. Pertama, merelokasi jalur jalan dengan memanfaatkan tanah bengkok. Kedua, tetap menggunakan jalur yang ada dengan membangun talud atau penahan tebing sungai yang longsor.

“Jika menggunakan alternatif kedua, gedung paling depan akan dibongkar terlebih dahulu untuk membuka akses jalan. Setelah itu baru dilakukan penanganan di tikungan jalan. Selanjutnya akan dikoordinasikan dengan dinas di tingkat kabupaten,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan Ahmad Najib mengatakan proses belajar mengajar saat ini tetap berjalan normal meskipun sementara dipindahkan ke gedung Madrasah Diniyah Muhammadiyah yang berjarak sekitar 200 meter dari sekolah.

“Jumlah siswa kami ada 108 orang dan kegiatan belajar masih berlangsung dengan baik,” ujarnya.

Terkait rencana relokasi sekolah, pihak SMP Muhammadiyah 3 bersama Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah menyiapkan lokasi alternatif. Tempat tersebut sudah dibahas bersama ketua ranting Muhammadiyah setempat dan saat ini tinggal menunggu proses pengecekan dari dinas terkait.

“Kami sudah menyampaikan laporan ke dinas dan memang perlu direlokasi. Lokasi alternatif sudah didiskusikan, tinggal menunggu pengecekan lebih lanjut,” pungkasnya. (*)

LAINNYA
x