

NALARMEDIA.COM – Memasuki satu tahun kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, capaian indikator pembangunan Jawa Tengah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan evaluasi delapan indikator utama, sebagian besar target tercapai bahkan melampaui target nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam forum diskusi Forum Wartawan Pemprov-DPRD Jateng (FWPJT) di Kompleks Kantor Gubernur, Senin, 23 Februari 2025. Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli, menyebut stabilitas birokrasi dan ekonomi menjadi faktor utama capaian tersebut.


Salah satu capaian utama adalah pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,37%, melampaui target 4,8%. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga turun menjadi 4,66% dan masih dalam rentang target.
Di sektor birokrasi, Indeks Reformasi Birokrasi mencapai 94,06, melampaui target 91,5. Sementara tingkat kemiskinan berada di angka 9,39% dan tetap dalam kisaran target pembangunan. Otonomi Fiskal Daerah juga mencapai 63,01%, menunjukkan kemandirian ekonomi daerah yang semakin kuat.

“Transformasi sosial dibuktikan dengan tingkat pengangguran terbuka dan angka kemiskinan yang terus menurun. Sementara transformasi tata kelola pemerintahan juga menguat dengan tingginya indeks integritas nasional, otonomi fiskal daerah, indeks demokrasi, dan indeks reformasi birokrasi,” kata Zulkifli.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menilai kinerja pemerintahan Luthfi–Yasin secara umum memuaskan berdasarkan indikator RPJMD.
“Secara indikator, mayoritas target terpenuhi. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan capaian pembangunan. Ini yang nanti akan kami dalami melalui rapat-rapat komisi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui optimalisasi aset daerah dan BUMD.
“Kita tidak bisa hanya bertumpu pada pajak. Optimalisasi aset daerah dan BUMD harus dimaksimalkan agar memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah,” tegasnya.
Dengan realisasi investasi mencapai Rp88 triliun, Saleh berharap dampaknya juga terlihat pada penciptaan lapangan kerja dan penurunan kemiskinan.
Pengamat politik Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menilai gaya kepemimpinan Luthfi–Yasin mencerminkan filosofi Jawa “rame ing gawe, sepi ing pamrih.”
“Pejabat publik adalah pemilik otoritas yang bersumber dari kedaulatan rakyat. Karena itu, publik berhak mengetahui apa yang dikerjakan pemimpinnya,” jelasnya.
Menurutnya, capaian satu tahun ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat pembangunan Jawa Tengah dalam empat tahun ke depan. (*)
