KEK dan Kawasan Industri Jateng Masih Jadi Andalan Tarik Investasi

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Feb 2026 17:19 11 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Keberadaan Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah dinilai masih menjadi faktor utama yang menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di provinsi tersebut.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellsari, menyebut kawasan industri memiliki peran penting sebagai pusat pertumbuhan investasi di berbagai daerah. Menurutnya, para pelaku usaha cenderung merasa lebih nyaman karena fasilitas penunjang telah disediakan oleh pengelola kawasan.

“Pelaku usaha akan merasa lebih nyaman karena sarana dan prasarana sudah disiapkan oleh pengelola kawasan industri,” ujar Sakina dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), serta Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (Keris) Jawa Tengah di Semarang, Rabu (11/2/2026).

Berdasarkan data hingga akhir 2025, tercatat 109 perusahaan beroperasi di KEK Kendal, 48 perusahaan di KEK Indutropolis Batang, 47 perusahaan di Kawasan Industri Candi Semarang, 31 perusahaan di Kawasan Industri Terboyo Semarang, 24 perusahaan di Kawasan Industri Wijayakusuma Semarang, 17 perusahaan di BSB Industrial Park, 12 perusahaan di Jateng Land Park Sayung Demak, lima perusahaan di Batang Industrial Park, serta tiga perusahaan di kawasan lainnya seperti Kawasan Industri Cipta dan LIK Bugangan Baru Semarang.

Sakina menjelaskan, kawasan-kawasan tersebut saat ini tersebar di empat daerah, yakni Kota Semarang, Demak, Kendal, dan Batang. Sementara kabupaten/kota lainnya masih berstatus kawasan peruntukan industri.

Ia berharap jumlah kawasan industri di Jawa Tengah dapat terus bertambah. Untuk itu, 31 kabupaten/kota lain yang memiliki kawasan peruntukan industri didorong untuk mengajukan peningkatan status menjadi kawasan industri resmi.

Menurutnya, wilayah Pantura memiliki daya tarik kuat bagi investor karena didukung akses jalan tol. Meski demikian, kawasan tengah dan selatan Jawa Tengah juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan industri.

“Kawasan tengah dan selatan bisa didorong melalui skema investment project to ready offer (IPRO) yang siap ditawarkan kepada calon investor, salah satunya lewat investment challenge yang difasilitasi Bank Indonesia,” jelasnya.

Pada 2025, tercatat 17 proposal dari 13 kabupaten/kota yang mengikuti investment challenge. Sakina berharap seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat berpartisipasi, mengingat program tersebut mendapat dukungan dari Bank Indonesia sehingga menghasilkan IPRO yang telah dilengkapi analisis ekonomi, sosial, dan potensi industri.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam berbagai kesempatan juga mendorong pemerintah daerah untuk membentuk kawasan ekonomi dan kawasan industri baru di wilayah masing-masing. Sejumlah daerah seperti Cilacap, Kebumen, Banyumas, Brebes, Batang, Kendal, Demak, Semarang, dan Rembang disebut telah menyiapkan potensi pengembangannya.

Menurut Ahmad Luthfi, pembentukan kawasan ekonomi dan industri akan mempermudah arus investasi serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia juga menegaskan, kemudahan perizinan, penguatan kawasan industri, serta stabilitas wilayah menjadi faktor yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap Jawa Tengah.

Sebagai gambaran, realisasi investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai Rp88,50 triliun, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan rilis Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 15 Januari 2026, capaian tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. (*)

LAINNYA