Komisi B DPRD Semarang Pertanyakan Isu Museum di Lokasi Toko Roti Gambang Pasar Johar

waktu baca 2 menit
Rabu, 8 Apr 2026 17:45 1 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM— Polemik keberadaan toko roti gambang di kawasan Pasar Johar terus menjadi sorotan. Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Mararas Apuwara, menilai isu yang menyebut lokasi tersebut sebagai area rencana museum tidak memiliki dasar yang jelas.

Menurutnya, selama proses perizinan yang berlangsung sejak sekitar September hingga Maret, tidak pernah muncul keberatan maupun polemik terkait penggunaan lahan tersebut. Ia mempertanyakan mengapa isu tersebut baru mencuat setelah bangunan toko berdiri dan ramai diperbincangkan publik.

“Sepengetahuan saya, tidak ada perencanaan kota yang menyebut lokasi itu akan dijadikan museum. Kalau memang ada, seharusnya sudah direalisasikan sejak dulu, bukan baru dipersoalkan sekarang,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Mararas Apuwara menegaskan, apabila benar terdapat rencana pembangunan museum di lokasi tersebut, mestinya sudah ada langkah konkret sejak lama. Ia menilai kemunculan isu tersebut di tengah polemik justru menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Di sisi lain, ia juga menyoroti persoalan penataan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang. Berdasarkan hasil rapat dengar pendapat dengan Dinas Perdagangan, disebutkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah opsi relokasi, termasuk ke kawasan Pasar Johar dan Kanjengan yang masih memiliki ketersediaan tempat.

“Sudah ada solusi yang ditawarkan, termasuk relokasi ke Pasar Johar dan Kanjengan. Jadi kalau disebut tidak ada tempat, perlu diperjelas lagi yang dimaksud di mana,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui kapasitas lapak tetap memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat menampung seluruh pedagang tanpa seleksi. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan skala prioritas, terutama bagi pedagang lama yang sebelumnya telah beraktivitas di kawasan pasar.

Lebih lanjut, Mararas Apuwara mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Semarang dalam menghidupkan kembali Pasar Johar sebagai pusat ekonomi sekaligus ikon kota. Salah satu strategi yang tengah dikembangkan adalah menghadirkan sentra kuliner untuk menarik pengunjung hingga malam hari.

Menurutnya, pengembangan tersebut penting agar Pasar Johar tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi destinasi yang memiliki daya tarik lebih luas bagi masyarakat.

“Pasar Johar ini ikonik, bukan hanya di Jawa Tengah tetapi juga Indonesia. Perlu inovasi agar kawasan ini tetap hidup, salah satunya melalui pengembangan pusat kuliner,” ungkapnya.

Program tersebut direncanakan menghadirkan kuliner legendaris Kota Semarang yang beroperasi hingga malam bahkan dini hari. Selain meningkatkan daya tarik, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi solusi tambahan bagi PKL yang belum memperoleh lapak tetap.

Dengan berbagai dinamika yang ada, ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan serta kejelasan perencanaan dari pemerintah agar tidak menimbulkan polemik baru di tengah masyarakat.

“Penataan pasar harus dilakukan secara terarah, transparan, dan benar-benar berpihak pada pedagang serta masyarakat,” pungkasnya.(*)

LAINNYA