
Lopis Raksasa 2 Ton Diserbu Warga, Tradisi Syawalan Pekalongan Makin SemarakNALARMEDIA.COM — Tradisi Syawalan di Kota Pekalongan kembali berlangsung meriah dengan hadirnya lopis raksasa berukuran fantastis yang menjadi pusat perhatian ribuan warga. Momen ini berlangsung di kawasan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, dan selalu dinantikan setiap tahunnya.
Lopis berbahan dasar ketan dengan berat mencapai lebih dari dua ton tersebut dipotong dan dibagikan kepada masyarakat yang telah memadati lokasi sejak pagi. Suasana pun penuh antusias, bahkan banyak pengunjung dari luar daerah datang khusus untuk menyaksikan langsung tradisi unik ini.


Salah satu pengunjung mengaku kagum dengan ukuran lopis yang tidak biasa serta atmosfer kebersamaan yang terasa kental. Tradisi ini memang tidak sekadar menyajikan kuliner, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan berbagai kalangan.
Panitia penyelenggara menjelaskan, lopis raksasa merupakan ciri khas Syawalan di Krapyak yang tidak ditemui di daerah lain. Keunikan tersebut bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan.

Proses pembuatannya pun tidak sederhana. Lopis dimasak selama tiga hari tiga malam menggunakan kayu bakar dan harus diawasi secara bergantian agar matang sempurna. Selain itu, proses memasak juga diiringi kegiatan spiritual seperti doa dan zikir, menambah nilai religius dalam tradisi tersebut.
Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menyebut tradisi ini sebagai simbol kebersamaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni bertujuan mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Lopis ini menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya lopis, kemeriahan Syawalan juga terasa di wilayah lain seperti Kelurahan Panjang Wetan, di mana warga menghadirkan gunungan berisi seribu kue bugis. Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus kreativitas masyarakat dalam melestarikan tradisi lokal.
Gunungan kue bugis setinggi sekitar 1,5 meter itu pun tak luput dari perhatian. Warga yang hadir berebut mendapatkan kue sebagai bagian dari kemeriahan acara, sekaligus wujud kebersamaan dan toleransi yang terjalin di tengah masyarakat.
Melalui tradisi ini, Pemerintah Kota Pekalongan berharap Syawalan tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus lestari, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata yang mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung setiap tahunnya. (*)
