Pemkot Semarang Dorong Festival Dugderan Jadi Warisan Budaya Nasional

waktu baca 3 menit
Senin, 9 Feb 2026 13:25 28 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang resmi membuka Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 yang digelar di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman), Sabtu (7/2). Festival tahunan yang mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi” ini akan berlangsung selama sepuluh hari, hingga 16 Februari 2026.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan suguhan panggung hiburan yang menampilkan kesenian lokal serta alunan musik Dangdut Jadoel dari Orkes Melayu (OM) Lorenza. Nuansa tempo dulu juga terasa kental melalui busana jadul yang dikenakan jajaran Pemkot Semarang, lengkap dengan kehadiran mainan klasik seperti kapal otok-otok, celengan gerabah, dan beragam kerajinan tradisional yang membangkitkan nostalgia lintas generasi.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Festival Dugderan merupakan tradisi panjang yang telah ada sejak masa kolonial dan terus dilestarikan hingga kini. Pada penyelenggaraan tahun ini, Pemkot berupaya menghadirkan konsep yang lebih semarak dan berkarakter.

“Tradisi ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tahun ini kita buat lebih ramai, mulai dari tema hingga busana tempo dulu. Ke depan tentu akan terus dikembangkan dengan konsep-konsep yang menarik,” ujar Agustina.

Sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga kawasan Alun-alun Barat disulap menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat yang tertata rapi. Ratusan pelaku UMKM dan Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan turut ambil bagian dengan menawarkan aneka produk lokal, kuliner khas, hingga mainan tradisional.

Agustina menegaskan bahwa alun-alun sebagai ruang publik dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat. Menurutnya, Festival Dugderan harus menjadi ruang bersama yang memberi prioritas utama bagi pelaku usaha kecil.

“Alun-alun ini kita manfaatkan sebagai panggung rakyat. Siapa pun yang ingin berjualan dipersilakan, yang penting tertib dan pelaku usaha kecil menjadi prioritas utama,” katanya.

Antusiasme pedagang tampak dari ramainya lapak kuliner yang berjajar di sepanjang area festival. Salah satu pedagang, Lis, mengaku senang karena dagangannya mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Semarang saat meninjau lokasi.

“Senang sekali, katanya enak. Harapannya ke depan bisa berjalan lancar, semakin banyak pedagang dan pengunjungnya,” tutur Lis.

Tak hanya menjadi agenda hiburan dan ekonomi, Pemkot Semarang juga tengah mengupayakan agar Festival Pasar Dugderan mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk menjaga nilai sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Semarang.

“Saat ini kami sedang berjuang agar Pasar Dugderan ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia. Kalau sudah diakui, siapa pun wali kotanya nanti wajib menyelenggarakan Dugderan,” lanjut Agustina.

Untuk mendukung kelancaran kegiatan, Pemkot Semarang telah menyiapkan koordinasi lintas sektor, mulai dari Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Satpol PP, hingga aparat keamanan. Rekayasa lalu lintas dan kebersihan kawasan juga menjadi perhatian selama festival berlangsung.

Festival Dugderan 2026 rencananya akan ditutup dengan arak-arakan Dugderan yang dimulai dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman pada 16 Februari 2026. (*)

LAINNYA