Pulihkan Kondisi Psikologis, Korban Banjir Pekalongan Ikuti Layanan Trauma HealingNALARMEDIA.COM – Korban banjir di Kota Pekalongan mendapatkan pendampingan psikologis melalui kegiatan trauma healing yang digelar untuk membantu memulihkan kondisi mental para pengungsi. Pendampingan ini diharapkan mampu meredakan tekanan psikologis, mengurangi kecemasan, serta membantu korban mengelola stres pascabencana.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Tim Psikologi Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Tengah, dengan sasaran pengungsi di tiga lokasi, yakni eks Kelurahan Kraton Kidul, Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, dan Gedung Kopindo Wiradesa.
Kasi Humas Polres Kota Pekalongan, Purno Utomo, mengatakan, kegiatan trauma healing ini bertujuan membantu masyarakat bangkit, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Menurutnya, pendekatan humanis menjadi kunci dalam pelaksanaan kegiatan. Anak-anak pengungsi diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif dan menyenangkan, seperti mewarnai, bermain, serta permainan interaktif, guna mengembalikan rasa aman dan keceriaan mereka.
“Kembalinya senyum anak-anak menjadi energi positif bagi semua pihak dan menandakan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi musibah ini,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Sementara itu, bagi pengungsi dewasa, tim psikologi memberikan dukungan emosional, motivasi, serta ruang untuk berbagi pengalaman dan keluhan. Layanan konsultasi psikologis juga disediakan, termasuk pendampingan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar tetap memperoleh penanganan yang sesuai di tengah situasi darurat.
Camat Pekalongan Barat, M Natsir, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai, pendampingan trauma healing sangat dibutuhkan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan, mengingat dampak bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental dan emosional korban.
“Kehadiran tim trauma healing sangat membantu memulihkan semangat dan ketenangan warga, khususnya anak-anak yang sempat mengalami ketakutan akibat banjir,” katanya.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan hingga kondisi para pengungsi benar-benar pulih, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan elemen masyarakat dalam penanganan dampak bencana.
Sebelumnya, tim medis dari RSUD Bendan Kota Pekalongan juga menggelar pemeriksaan kesehatan bagi pengungsi di Aula Kecamatan Pekalongan Barat. Perwakilan dokter RSUD Bendan, Fahmi, menyebutkan keluhan yang paling banyak dialami pengungsi meliputi demam, batuk dan pilek, serta diare.
Menurutnya, penyakit tersebut berkaitan erat dengan kondisi imunitas tubuh dan mudah menular di lingkungan pengungsian yang padat. Batuk dan pilek, kata dia, dapat menyebar dengan cepat karena para pengungsi tinggal dalam satu ruangan.
Sementara itu, kasus diare umumnya dipicu oleh kebersihan MCK dan perilaku hidup bersih. Ia mengimbau para pengungsi untuk menjaga kebersihan diri, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari penggunaan peralatan makan dan minum secara bergantian selama berada di lokasi pengungsian. (*)