Operasi Modifikasi Cuaca Kembali Digelar, Ribuan Kilogram Garam Disemai di Perairan Utara Jateng

waktu baca 3 menit
Rabu, 28 Jan 2026 13:33 21 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali dilaksanakan di wilayah perairan utara Jawa Tengah pada Selasa (27/1/2026). Pada sortie ketiga, pesawat PK-SCJ melakukan penyemaian awan dengan bahan Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram.

Penyemaian difokuskan pada target pertama dengan posisi radial 298 hingga 309 derajat, berjarak sekitar 52 hingga 82 nautical mile (nm) dari Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang.

Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Fadhlan Rizakul Hafidz, menjelaskan bahwa wilayah perairan utara Jawa Tengah masih memiliki kondisi meteorologis yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

“Area sasaran berada di perairan utara Jawa Tengah dan masih berpotensi untuk dilakukan penyemaian,” ungkap Fadhlan.

Berdasarkan hasil pengamatan selama penerbangan, penyemaian dilakukan pada awan jenis Cumulus Congestus dengan ketinggian puncak awan mencapai 14.000 hingga 15.000 kaki, serta dasar awan berada pada kisaran 4.000 hingga 5.000 kaki.

Selain itu, tim juga mengidentifikasi keberadaan awan Stratocumulus dengan puncak awan sekitar 10.000 kaki dan dasar awan di ketinggian 6.000 kaki.

Fadhlan menyebutkan, kondisi angin di ketinggian 10.000 hingga 11.000 kaki bergerak dari arah Barat Daya hingga Barat dengan kecepatan 5 hingga 17 knot. Sementara di lapisan bawah hingga menengah, arah angin dominan dari Barat Laut dengan kecepatan 17 hingga 25 knot.

Tim OMC juga melaporkan bahwa awan di perairan utara Jawa Tengah masih terpantau cukup masif. Pada ketinggian 10.000 kaki terlihat banyak awan berlapis, meskipun pesawat masih dapat menembus hingga sisi utara awan target. Di lapisan atas, terpantau awan luruhan atau anvil yang berasal dari awan Cumulonimbus.

Menurut Fadhlan, pelaksanaan OMC ini bertujuan untuk mengelola distribusi curah hujan, terutama guna mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah daratan Jawa Tengah dengan mengarahkan pertumbuhan awan hujan ke wilayah perairan.

“Langkah ini menjadi bagian dari mitigasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan genangan, khususnya pada puncak musim hujan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas C Penanggungan, mengatakan bahwa operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga 29 Januari 2026. Upaya ini difokuskan untuk menekan curah hujan di wilayah terdampak bencana guna mendukung proses penanganan darurat.

Dalam satu hari, lanjut Bergas, operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan sebanyak 5 hingga 9 sortie, tergantung pada kondisi awan dan potensi hujan.

“Sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah, kami telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk melanjutkan modifikasi cuaca hingga 29 Januari 2026,” ujarnya.

Bergas menjelaskan, pesawat modifikasi cuaca dapat membawa dua jenis bahan semai, yakni kapur dan garam. Kapur digunakan untuk menahan hujan agar tidak turun di wilayah terdampak bencana, sementara garam berfungsi untuk mempercepat turunnya hujan sebelum awan memasuki area rawan.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat prediksi BMKG menunjukkan puncak curah hujan masih akan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. (*)

LAINNYA