Dugderan 2026 Tampil Lebih Semarak, Agustina Angkat Harmoni Barongsai dan Tradisi Ramadan

waktu baca 2 menit
Senin, 16 Feb 2026 10:00 22 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota Semarang memastikan perhelatan tahunan Dugderan 2026 digelar lebih meriah pada Senin (16/2). Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi”, perayaan kali ini terasa istimewa karena waktunya berdekatan dengan Imlek, menegaskan wajah Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman melalui karnaval yang melintasi berbagai ikon religi lintas budaya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menekankan bahwa Dugderan bukan sekadar seremoni menyambut Ramadan. Tradisi ini, menurutnya, merupakan ruang inklusif yang mempersatukan warga dari beragam latar belakang dalam suasana sukacita menyongsong bulan suci.

“Dugderan adalah simbol kebersamaan masyarakat Semarang. Tradisi ini harus menjadi ruang terbuka untuk merayakan kekayaan budaya sekaligus mempererat persaudaraan. Inilah momentum memperkuat identitas kota yang inklusif,” ujarnya.

Untuk menjaga kekhidmatan, rangkaian acara dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berupa Pawai Budaya Dugder yang melibatkan elemen masyarakat dan komunitas seni, dengan rute dari Balai Kota menuju kawasan Alun-Alun Kauman. Sesi kedua dilanjutkan dengan rombongan bus wali kota yang bergerak melalui Jalan Wahid Hasyim menuju Masjid Agung Jawa Tengah tanpa iringan parade.

Beragam atraksi seni, mulai dari tari tradisional hingga pertunjukan barongsai, dihadirkan dalam pawai untuk memperkaya nuansa akulturasi budaya. Agustina berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut merasakan pengalaman budaya yang utuh karena Dugderan merupakan milik seluruh warga.

Keberlanjutan tradisi juga diwujudkan melalui Kirab Dugder Anak yang menempuh rute dari SD Marsudirini menuju Thamrin Square. Ribuan pelajar dan pegiat seni dilibatkan agar nilai historis dan spiritual Dugderan tetap hidup di tengah dinamika modernisasi.

“Ketika generasi muda memahami dan mencintai budayanya sejak dini, mereka akan tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitas kota. Pengalaman langsung seperti ini penting untuk menjaga warisan leluhur tetap lestari,” tegasnya.

Dugderan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi pesta rakyat menjelang Ramadan, tetapi juga magnet wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan nasional dan mancanegara. Perpaduan nilai religi, seni, dan toleransi yang kuat menjadi bukti bahwa Semarang adalah rumah harmonis bagi keberagaman. (*)

LAINNYA