MBG Gerakkan Ekonomi Desa, 119 SPPG di Jateng Gandeng BUMDes dan Koperasi

waktu baca 2 menit
Selasa, 3 Mar 2026 19:49 16 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Hingga kini, sedikitnya 119 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah bermitra dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Dari jumlah tersebut, 53 SPPG bekerja sama dengan BUMDes dan 64 SPPG menjalin kemitraan dengan KDKMP. Berbagai komoditas seperti ayam, telur, sayuran, bumbu dapur, hingga bahan pangan lainnya dipasok langsung dari desa-desa di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa MBG memiliki dampak ganda, tidak hanya pada peningkatan kualitas gizi, tetapi juga sebagai investasi strategis dalam membangun sumber daya manusia serta menggerakkan roda ekonomi daerah.

“Program ini bukan sekadar makan bergizi. Ada efek berganda yang mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk penguatan wirausaha di 35 kabupaten/kota,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi MBG di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Selasa (3/3).

Luthfi juga meminta para bupati dan wali kota untuk memperkuat konektivitas antara pelaksanaan MBG dan koperasi desa agar berjalan selaras dan saling mendukung.

Sejauh ini, progres pembentukan Koperasi Merah Putih di Jawa Tengah menunjukkan capaian signifikan. Dari total 8.523 desa/kelurahan, sebanyak 6.217 koperasi atau 73 persen telah beroperasi dengan jumlah anggota mencapai 200.007 orang. Jawa Tengah juga menyumbang 598 gedung KDKMP atau sekitar 35 persen dari total nasional.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Tengah menargetkan produksi padi 2026 sebesar 10,55 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,22 persen dibanding realisasi 2025. Target tersebut diharapkan mampu menopang keberlanjutan program MBG sekaligus menjaga stabilitas ekonomi desa.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan bahwa MBG dirancang sebagai penggerak ekonomi rakyat. Ia mengingatkan agar SPPG memprioritaskan bahan baku dari pemasok lokal, bukan dari grosir besar di luar daerah.

Menurutnya, koperasi desa harus berperan sebagai agregator dan penyangga harga komoditas. Jika harga gabah, jagung, ikan, atau produk lainnya turun di bawah harga acuan, koperasi dapat menyerap hasil tersebut dan menyalurkannya melalui skema MBG.

Dengan pola kemitraan tersebut, MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi desa secara berkelanjutan. (*)

LAINNYA
x