Gubernur Ahmad Luthfi: 90 Persen Lulusan Sekolah Vokasi di Jawa Tengah Terserap Dunia Kerja

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Mar 2026 16:22 16 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebutkan sekitar 90 persen lulusan sekolah vokasi di wilayahnya telah terserap di dunia industri. Hal itu disampaikan saat melakukan kunjungan bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso di sejumlah sekolah vokasi di Kabupaten Kudus, Kamis (12/3/2026).

“Dari 10 persen yang belum terserap, karena belum cukup umur untuk melanjutkan kerja,” kata Luthfi.

Tercatat, di Jawa Tengah terdapat sebanyak 1.529 sekolah vokasi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah July Emmylia, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Sadimin.

Rombongan mengunjungi tiga sekolah vokasi, yakni SMK Raden Umar Said, SMK NU Banat Kudus, dan SMK Wisudha Karya Kudus. Mereka juga meninjau langsung kegiatan pembelajaran serta karya para siswa di berbagai bidang keahlian.

Di SMK Raden Umar Said, rombongan melihat karya animasi yang dihasilkan oleh para siswa. Sementara di SMK NU Banat Kudus, mereka menyaksikan berbagai karya siswa di bidang fashion dan kewirausahaan, termasuk peragaan busana serta produk-produk yang dikembangkan para pelajar.

Adapun di SMK Wisudha Karya Kudus, rombongan meninjau proses pembelajaran vokasi di bidang pelayaran yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor maritim.

Menurut Luthfi, sekolah vokasi menjadi salah satu kekuatan daerah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. Keberagaman bidang keahlian yang dimiliki sekolah vokasi juga menunjukkan kesiapan generasi muda Jawa Tengah untuk memasuki berbagai sektor industri.

“Ini merupakan bukti bahwa masyarakat kita sudah siap pakai. Anak-anak muda kita di sekolah-sekolah vokasi di Jawa Tengah siap bekerja di perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah kita,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong penguatan pendidikan vokasi, investasi padat karya, serta memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai kabupaten dan kota.

Salah satu siswa SMK Raden Umar Said Kudus, Haidar, mengaku kemampuannya di bidang animasi berkembang pesat sejak belajar di sekolah tersebut, meskipun saat ini ia baru duduk di kelas XI.

Ia berharap suatu saat dapat menjadi animator profesional dan berkarya di industri animasi.

Di sekolah tersebut, para siswa juga terbiasa mengerjakan proyek-proyek dari industri sehingga memiliki pengalaman kerja sebelum lulus. Bahkan, sebagian karya siswa sudah berhasil dipasarkan hingga ke Amerika Serikat dan Jepang.

Sementara itu, siswa SMK NU Banat Kudus, Hannah Rahmania Putri, mengatakan para siswa tidak hanya mempelajari desain, tetapi juga mengembangkan produk yang siap dipasarkan.

“Untuk semester ini kami sedang mengembangkan beberapa produk seperti card holder, lanyard, dompet, dan sabuk,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah siap membantu membuka akses pasar internasional bagi produk kreatif dari Indonesia, termasuk jasa animasi yang dihasilkan para siswa.

Menurutnya, Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara yang bertugas mempromosikan produk Indonesia ke pasar global.

“Kalau ada produk jasa seperti animasi dari teman-teman SMK ini, kami bisa membantu mempertemukan dengan permintaan pasar di luar negeri,” kata Budi. (*)

LAINNYA
x