Langkah Nyata Melalui Program Mageri Segoro, Upaya Bersama Jaga Masa Depan Pesisir Jateng

waktu baca 3 menit
Sabtu, 6 Jun 2026 14:49 10 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Suasana pagi di Pantai Tirang, Kota Semarang, Sabtu (6/6/2026), tampak begitu hangat saat matahari mulai memancarkan sinar keemasannya. Deburan ombak yang menerpa pasir pantai mengiringi sebuah langkah nyata untuk menyelamatkan lingkungan pesisir dari ancaman abrasi.

Di tengah harmoni alam tersebut, puluhan orang berkumpul membawa harapan baru untuk menjaga kelestarian alam. Mereka bersiap menanam ratusan bibit cemara laut dan ribuan mangrove sebagai sabuk hijau pelindung kawasan pesisir di masa depan.

Aksi peduli lingkungan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari jajaran pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, hingga mahasiswa. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung Program Mageri Segoro yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Dalam aksi gotong royong ini, para peserta menanam 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove di Pantai Tirang, sekaligus membersihkan area pantai dari sampah. Pada saat yang sama, 16 kabupaten dan kota pesisir di Jawa Tengah juga menggelar aksi serupa secara serentak dengan total menanam 92.290 bibit tanaman pesisir.

Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tugas pemerintah semata. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat harus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam sekitar secara bersama-sama.

Gubernur menjelaskan bahwa penanaman pohon ini merupakan bagian dari Gerakan Mageri Segoro, sebuah program strategis untuk membentengi kawasan pesisir dari bahaya banjir rob dan abrasi.

“Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” kata dia.

Luthfi mengungkapkan bahwa sejumlah kawasan pantai di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah saat ini menghadapi tekanan abrasi yang cukup parah. Oleh karena itu, gerakan menanam mangrove menjadi langkah investasi jangka panjang yang sangat krusial untuk mempertahankan garis pantai.

Kendati demikian, Luthfi mengingatkan bahwa menanam bibit saja belum cukup. Semua pihak harus merawat tanaman tersebut agar tumbuh subur dan memberikan dampak nyata bagi pesisir. Menjelang musim kemarau, ia meminta dinas terkait, penggiat lingkungan, hingga pelaku industri di kawasan sekitar untuk melakukan pemantauan berkala.

“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” tandasnya.

Selain mengantisipasi rob dan abrasi, Luthfi juga menaruh perhatian pada masalah eksploitasi air tanah. Ia menginstruksikan jajarannya untuk mengevaluasi kebijakan pengambilan air tanah secara berkala demi mencegah penurunan permukaan tanah (land subsidence) di wilayah pesisir.

Ia menilai edukasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan air tanah secara sembarangan sangat penting. Sebagai solusi, pemerintah daerah harus mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui BUMD, serta mendorong penerapan teknologi desalinasi air laut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat nelayan di pesisir.

Pada momen tersebut, persoalan sampah juga menjadi sorotan penting. Menindaklanjuti arahan Presiden RI, Luthfi menyatakan komitmennya untuk mendukung target Indonesia bebas sampah (zero waste) pada tahun 2029, yang harus diwujudkan di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memetakan kondisi pengelolaan sampah di setiap kabupaten dan kota. Untuk wilayah dengan produksi sampah mencapai 1.000 ton per hari seperti Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya, Pemprov menerapkan skema pengelolaan regional atau aglomerasi.

Sementara itu, daerah dengan produksi sampah di bawah jumlah tersebut akan mengadopsi teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) yang hasilnya dapat memasok kebutuhan energi pabrik semen.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah kali ini mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”. Tema ini sangat kontekstual mengingat Jawa Tengah kerap menghadapi dampak nyata perubahan iklim, terutama bencana hidrometeorologi yang mendominasi peristiwa alam di provinsi tersebut.

Aisyah, seorang anggota Saka Kalpataru yang ikut serta dalam aksi tersebut, mengungkapkan harapannya agar penanaman mangrove ini mampu menjaga keberlanjutan lingkungan di Pantai Tirang.

“Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” kata Aisyah. (*)

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA