Herlambang Respons Kritik Eks Ketua BEM UGM dengan Ajakan Dialog, Tekankan Etika dalam Demokrasi

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Jun 2026 22:28 5 Rudi Sidarta

NALARMEDIA.COM – Anggota DPRD Kota Semarang dari Partai Gerindra, Herlambang Prabowo, merespons pernyataan eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, yang belakangan menjadi perhatian publik. Alih-alih memperpanjang polemik, Herlambang memilih membuka ruang dialog dan diskusi terbuka sebagai bagian dari praktik demokrasi yang sehat.

Menurut Herlambang, kritik terhadap pemerintah merupakan hak setiap warga negara dan menjadi elemen penting dalam sistem demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap mengedepankan etika, argumentasi yang kuat, serta tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Demokrasi memberikan ruang seluas-luasnya untuk menyampaikan kritik. Tetapi kritik juga perlu disampaikan secara bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi narasi yang menimbulkan kecemasan dan mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi negara,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Ia menilai masyarakat membutuhkan ruang diskusi yang konstruktif untuk mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Karena itu, perbedaan pandangan seharusnya menjadi bahan dialog, bukan alasan untuk saling menyerang.

Herlambang mengatakan pemerintah saat ini tengah menjalankan berbagai program strategis yang bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi dan pembangunan nasional. Menurutnya, sejumlah kebijakan tersebut membutuhkan waktu sebelum hasilnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

“Kita tentu boleh berbeda pendapat. Tetapi pembangunan dan berbagai program pemerintah juga perlu dilihat secara utuh. Ada proses yang membutuhkan waktu sebelum hasilnya terlihat,” katanya.

Selain substansi kritik, Herlambang juga menyoroti pentingnya menjaga etika dalam ruang publik. Ia menilai budaya Indonesia mengajarkan nilai kesantunan dan penghormatan terhadap sesama, termasuk ketika menyampaikan perbedaan pendapat.

Menurut dia, kecerdasan intelektual perlu berjalan seiring dengan sikap menghargai pandangan orang lain agar diskusi publik tetap berlangsung sehat dan produktif.

“Keberanian menyampaikan pendapat itu penting, tetapi etika juga tidak boleh ditinggalkan. Dengan cara seperti itu, kritik akan lebih mudah diterima dan menjadi bahan evaluasi yang bermanfaat,” tuturnya.

Herlambang juga mengajak masyarakat untuk melihat berbagai isu secara berimbang. Selain mengkritisi kekurangan pemerintah, ia menilai capaian dan kebijakan yang memberikan dampak positif juga perlu mendapatkan perhatian.

Baginya, ruang publik yang sehat adalah ruang yang mampu menghadirkan kritik sekaligus apresiasi secara proporsional.

Meski memberikan catatan terhadap cara penyampaian kritik, Herlambang menegaskan dirinya menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, termasuk kalangan mahasiswa dan aktivis.

Ia bahkan secara terbuka mengundang Tiyo Ardianto untuk berdiskusi mengenai berbagai isu kebangsaan dan pembangunan nasional.

“Kalau ada kesempatan, saya siap berdialog dan bertukar pikiran. Dalam demokrasi, perbedaan pendapat bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi sarana mencari solusi terbaik bagi kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Herlambang, tradisi dialog dan pertukaran gagasan perlu terus dijaga agar demokrasi Indonesia semakin dewasa serta mampu menghasilkan masukan yang konstruktif bagi pemerintah maupun masyarakat luas. (*)

LAINNYA