NALARMEDIA.COM – Dominasi China dalam perdagangan internasional semakin sulit dibendung. Sepanjang 2024, sebanyak 100 negara dan wilayah menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai sumber impor terbesar, mengukuhkan posisinya sebagai pusat manufaktur sekaligus eksportir barang terbesar di dunia.
Data yang dihimpun dari OEC World, UN Comtrade, IMF, dan diolah Our World in Data menunjukkan ketergantungan banyak negara terhadap produk buatan China terus meningkat. Perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan barang (goods) dan tidak memasukkan sektor jasa.
Kekuatan ekspor China ditopang kapasitas manufaktur berskala raksasa yang mampu memasok berbagai kebutuhan dunia, mulai dari bahan baku industri, mesin, elektronik, komponen otomotif, hingga teknologi energi bersih.
Tak hanya mendominasi kawasan Asia, China kini menjadi pemasok impor terbesar bagi banyak negara di Afrika, Timur Tengah, Amerika Selatan, hingga sebagian Eropa.
Negara-negara dengan perekonomian besar seperti Jepang, Korea Selatan, India, Indonesia, Brasil, dan Jerman kini lebih banyak mengimpor barang dari China dibandingkan negara lain.
Keberhasilan China menjadi pusat produksi dunia juga tercermin dari surplus perdagangannya yang telah melampaui US$1,2 triliun. Nilai tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah perdagangan global.
Skala produksi yang sangat besar membuat harga produk China lebih kompetitif dibanding banyak negara lain. Kondisi ini mendorong semakin banyak negara mengandalkan pasokan dari China untuk memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi domestik.
Indonesia termasuk negara yang mengalami peningkatan hubungan dagang dengan China. Impor nasional masih didominasi berbagai produk asal China seperti mesin industri, peralatan elektronik, bahan baku manufaktur, hingga barang konsumsi.
Meski pengaruh China terus meluas, Amerika Serikat tetap mempertahankan dominasinya di kawasan Amerika Utara dan Amerika Tengah.
Kanada, Meksiko, Kolombia, Republik Dominika, Haiti, Guyana, Ekuador, serta sejumlah negara Amerika Tengah masih menjadikan Amerika Serikat sebagai pemasok barang terbesar.
Menariknya, China justru masih mengimpor lebih banyak barang dari Amerika Serikat dibanding negara lain, meski menjadi eksportir terbesar dunia.
Di kawasan Eropa, Jerman masih menjadi pusat perdagangan regional dan menjadi sumber impor utama bagi sejumlah negara seperti Prancis, Italia, Spanyol, Polandia, hingga Inggris.
Namun, perubahan peta perdagangan juga mulai terlihat. Jerman sendiri kini lebih banyak mengimpor barang dari China dibandingkan negara mana pun.
Fenomena serupa juga terjadi di Rusia, Norwegia, dan Ukraina yang semakin meningkatkan ketergantungan terhadap produk asal China.
Di sisi lain, hanya sedikit negara yang masih mempertahankan pola perdagangan berbasis kawasan. Argentina lebih banyak mengimpor dari Brasil, Albania dari Italia, sementara Bhutan tetap menjadikan India sebagai mitra impor utama.
Meningkatnya dominasi China menunjukkan perubahan besar dalam rantai pasok global. Dengan kapasitas industri yang terus berkembang, Negeri Tirai Bambu kini menjadi tulang punggung perdagangan barang dunia sekaligus mitra impor utama bagi semakin banyak negara, termasuk Indonesia.(**)