Tembus 6,69 Juta Ton, Gubernur Luthfi Optimistis Panen Raya Bawa Jateng Capai Target Produksi Padi

waktu baca 3 menit
Kamis, 3 Sep 2026 22:38 22 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mencatatkan angka produktivitas padi sebesar 6,69 juta ton sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. Capaian impresif ini telah menyentuh angka 63 persen dari total target produksi tahunan yang pemerintah patok di level 10,5 juta ton.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyuarakan rasa optimismenya bahwa provinsi ini mampu mengejar target akhir tahun tersebut secara maksimal. Keyakinan ini muncul seiring masuknya fase puncak musim panen raya kedua, serta kesiapan sejumlah daerah yang akan segera menyambut musim panen ketiga.

“Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten/kita lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan maka akan bisa terpenuhi,” kata Luthfi di sela-sela memimpin agenda panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis (3/9/2026).

Luthfi menyebut Kabupaten Pemalang menduduki posisi lima besar sebagai lumbung penyangga produksi padi di Jawa Tengah. Untuk mendongkrak semangat dan produktivitas petani, Pemprov Jateng kembali menggelontorkan beragam bantuan alat mesin pertanian (alsintan). Paket bantuan tersebut meliputi traktor, mesin pemanen padi (combine harvester), pompa air, hingga ketersediaan benih unggul. Pemerintah memastikan distribusi bantuan ini tidak hanya terpusat di Pemalang, tetapi juga menyebar ke berbagai kantong pertanian lain di Jawa Tengah.

“Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke sini. Kita juga ada dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki kearifan lokal tersendiri dalam mengelola masa tanam. Ia mencontohkan petani di kawasan Pantura seperti Desa Kedungbanjar yang biasa mempraktikkan dua kali musim panen padi lalu menyelinginya dengan komoditas palawija. Di sisi lain, ada pula daerah yang agresif menggarap lahan hingga tiga kali musim tanam dan panen dalam setahun.

“Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi. Tapi dengan metode PMAS atau pertanian modern agriculture advance system itu dua kali musim tanam cukup karena produksinya tinggi,” katanya.

Selain mendistribusikan alat, Pemprov Jateng juga mengandalkan inovasi program Pilar Jateng untuk mengawal produktivitas pangan. Lewat program ini, pemerintah mengoperasikan sistem pemetaan digital yang melacak kondisi infrastruktur lahan, jaringan irigasi, hingga status ketersediaan mesin pertanian di lapangan. Pendataan yang komprehensif ini membuat seluruh rancangan pembangunan sektor pertanian berjalan lebih presisi.

“Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani,” katanya.

Suntikan bantuan alsintan ini mendapat sambutan hangat karena benar-benar mempermudah efisiensi kerja petani Pemalang. Selama ini, tingkat modernisasi pertanian di wilayah tersebut masih tergolong minim. Kehadiran mesin combine harvester sukses memangkas biaya produksi secara signifikan, mengingat sebelumnya para petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa dan mendatangkan mesin pemanen dari luar daerah.

“Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kita kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain, itu juga mempengaruhi harga gabah,” ujar Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Kecamatan Petarukan, Sudirto, usai menerima unit combine harvester.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA