Program Revola Jateng Sulap Lahan Tidur Pakai Drone dan Irigasi Tetes

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Jul 2026 14:08 6 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah kini tampil semakin modern dan canggih. Melalui program Revolusi Lahan (Revola) Jawa Tengah, pemerintah daerah mengerahkan anak-anak muda untuk mengoperasikan berbagai teknologi mutakhir, mulai dari alat pendeteksi kelembapan tanah, sistem irigasi tetes (drop irrigation), hingga drone guna menyulap lahan tidur agar kembali produktif.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, membeberkan kecanggihan program Revola Jateng Optimis tersebut. Ia memaparkan progres pemanfaatan teknologi inovatif ini secara langsung kepada Gubernur Ahmad Luthfi di Kota Semarang pada Rabu (29/7/2026).

Frans, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Distanak memilih Kabupaten Banjarnegara sebagai lokasi proyek percontohan (pilot project) di atas hamparan lahan seluas 10 hektare. Pelaksanaan operasional program ini menggandeng 22 pemangku kepentingan (stakeholder) dan sukses melibatkan sedikitnya 625 Kepala Keluarga (KK) setempat.

Program perintis ini mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbengkalai dengan menerapkan sistem pertanian terpadu berbasis teknologi (integrated smart farming). Dalam praktiknya, pemerintah memadukan tenaga para generasi milenial untuk berkolaborasi secara langsung dengan para petani senior.

“Pembagian tugasnya, petani generasi tua atau senior lebih pada pengolahan lahan sedangkan generasi muda menangani teknis yang berkaitan dengan teknologi smart farming seperti drop irrigation (irigasi tetes), drone, alat pendeteksi kelembaban tanah dan air, dan lainnya,” katanya.

Distanak mendesain tata kelola optimalisasi lahan pertanian tersebut secara bertingkat (leveling). Pada tingkatan pertama, petani menanami area seluas kurang lebih dua hektare dengan komoditas alpukat dan kopi. Kedua, warga memanfaatkan lahan di bawah setengah hektare sebagai area peternakan ayam, kambing, dan domba. Ketiga, tim mengalokasikan ruang khusus untuk tanaman hortikultura seperti cabai, pisang, serta terong. Terakhir, mereka menyiapkan sisa lahan untuk budi daya jagung dan padi.

“Jadi ini lahan yang 12 tahun tidak dikerjakan apa-apa. Menariknya, ini lahan bekas PIR (perkebunan inti rakyat) lokal teh yang akan dikembalikan ke masyarakat. Revola Jateng ini menjembatani untuk pengolahan lahan agar produktif,” katanya.

Proyek percontohan ini telah membawa dampak ekonomi yang sangat nyata bagi 625 KK di Banjarnegara. Masyarakat setempat kini sudah bisa merasakan langsung manisnya hasil panen pertanian dan produk peternakan. Pemerintah memperkirakan total nilai produksi dari lahan tersebut mampu menembus angka Rp1,9 miliar. Melihat potensi raksasa ini, Bupati Banjarnegara bahkan sudah membidik kawasan Revola Jateng tersebut untuk menjadi destinasi agrowisata baru.

“Ada 625 KK miskin yang terlibat di daerah itu, dan kita harapkan bisa naik kelas menjadi tidak miskin,” jelasnya.

Menyikapi keberhasilan di Banjarnegara, Frans memastikan pihaknya akan segera mengembangkan program serupa ke berbagai daerah lain. Langkah ekspansi ini sejalan dengan arahan Gubernur Ahmad Luthfi untuk menopang ketahanan pangan daerah. Merujuk data Distanak, Kabupaten Batang dan Pekalongan masuk dalam radar sasaran utama karena kedua daerah tersebut juga memiliki agenda penyerahan lahan bekas Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

“Sudah ada beberapa daerah yang mengajukan, ke depan akan kami coba arahkan ke daerah-daerah lain,” katanya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA