Padi Biosalin Belum Menarik Minat Petani, Sawah Mangunharjo Terancam Abrasi

waktu baca 4 menit
Senin, 3 Agu 2026 23:18 3 Rudi Sidarta

NALARMEDIA.COM – Ancaman rob dan abrasi yang terus terjadi di kawasan pesisir Kota Semarang dikhawatirkan akan menghilangkan lahan pertanian produktif. Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman meminta pemerintah segera menyiapkan langkah penanganan yang lebih serius agar sawah di wilayah pesisir tidak semakin rusak akibat masuknya air laut.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah belum optimalnya pemanfaatan padi biosalin yang dikembangkan Pemerintah Kota Semarang bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Padi biosalin diketahui mampu tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi atau terpapar air payau. Namun, hasil panennya masih belum banyak diminati masyarakat sehingga petani belum tertarik mengembangkan budidayanya secara luas.

Kadar Lusman atau yang akrab disapa Pilus mengatakan padi biosalin dapat menjadi alternatif bagi petani yang memiliki lahan terdampak rob, terutama di kawasan Mangunharjo dan Mangkang Wetan.

Namun, keberhasilan inovasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tanaman bertahan di lingkungan ekstrem. Produk hasil panen juga harus memiliki nilai ekonomi dan diterima oleh konsumen.

“Memang biosalin ini bisa ditanam di lahan yang terkena air payau. Tetapi hasil berasnya menurut para petani dan warga kurang diminati karena mereka belum terbiasa mengonsumsinya,” ujar Pilus.

Menurutnya, rendahnya minat masyarakat bukan berarti kualitas beras biosalin buruk. Perbedaan rasa dan karakter beras membuat sebagian konsumen masih memilih beras yang selama ini biasa dikonsumsi.

“Kalau kualitas sebenarnya mungkin bukan jelek, tetapi masyarakat belum terbiasa. Karena rasanya berbeda, akhirnya permintaan di pasar juga masih rendah,” katanya.

Abrasi dan Rob Terus Mengancam Sawah

Pilus menilai persoalan yang lebih mendesak adalah kerusakan lahan pertanian akibat abrasi dan rob yang terus terjadi di kawasan pesisir.

Di wilayah Kecamatan Tugu, terutama Mangunharjo, sejumlah area persawahan mulai mengalami perubahan kondisi. Air laut yang masuk secara berulang menyebabkan tanah semakin terpengaruh kadar garam dan menyulitkan aktivitas pertanian.

Jika tidak segera ditangani, sebagian lahan pertanian dikhawatirkan tidak lagi dapat digunakan untuk menanam padi dalam beberapa tahun mendatang.

“Kalau kondisi ini dibiarkan, dua sampai tiga tahun ke depan bisa jadi sebagian besar sawah di sana sudah tidak bisa ditanami lagi. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.

Masuknya air laut juga membawa bibit mangrove ke area persawahan. Bibit tersebut kemudian tumbuh di lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi.

“Sekarang pemandangannya sudah berubah. Dulu itu sawah, sekarang banyak yang berubah menjadi kawasan mangrove karena buah mangrove terbawa air pasang lalu tumbuh di lahan pertanian,” ungkap Pilus.

Petani Terancam Kehilangan Lahan Produktif

Menurut Pilus, kerusakan sawah akibat rob dan abrasi dapat memicu persoalan sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Ketika lahan tidak lagi produktif, petani berpotensi kehilangan sumber penghasilan. Dalam jangka panjang, pemilik sawah juga dapat memilih menjual lahan karena tidak lagi mampu menghasilkan panen.

“Kalau petani sudah tidak bisa menggarap sawahnya, lama-lama mereka akan memilih menjual lahannya. Kalau itu terjadi, lahan pertanian bisa berubah fungsi dan kita akan kehilangan sawah produktif di pesisir,” ujarnya.

DPRD Kota Semarang mendorong Pemerintah Kota Semarang bersama pemerintah pusat dan instansi terkait menyusun penanganan terpadu untuk mengurangi dampak rob serta abrasi.

Pilus menilai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengembangkan varietas padi yang tahan salinitas. Perlindungan terhadap lahan pertanian juga harus dilakukan melalui pengendalian air laut dan pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kondisi kawasan pesisir.

“Kami sudah berupaya mendorong melalui berbagai usulan, tetapi persoalan ini membutuhkan penanganan yang lebih besar. Harus ada perencanaan yang matang agar air pasang tidak terus masuk ke lahan pertanian,” katanya.

Ia juga meminta semua pihak ikut mengawal upaya penyelamatan lahan pertanian di pesisir Semarang. Menurutnya, keberadaan sawah memiliki peran penting dalam menjaga mata pencaharian petani sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

“Kami ingin pertanian di Semarang tetap lestari. Jangan sampai sawah-sawah di pesisir hilang karena abrasi. Ini bukan hanya soal petani, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Kota Semarang,” pungkasnya. (**)

LAINNYA