Gubernur Ahmad Luthfi Gandeng Investor Amerika untuk Garap Proyek Sampah Soloraya

waktu baca 3 menit
Selasa, 4 Agu 2026 04:08 4 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah kembali membuka pintu lebar-lebar bagi penanaman modal asing guna menuntaskan krisis pengelolaan limbah daerah. Gubernur Ahmad Luthfi kini menggandeng perusahaan energi asal Amerika Serikat, Energy Three International (E3i), untuk menggarap proyek pengolahan sampah di kawasan aglomerasi Soloraya.

Luthfi memaparkan bahwa manajemen tumpukan sampah di wilayah Soloraya masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat mendesak. Pemerintah daerah sebenarnya sudah mengantongi kesepakatan awal untuk menyulap limbah menjadi tenaga listrik. Namun, pemerintah masih kesulitan mencari cara untuk membereskan gunungan sampah lama yang volumenya sangat masif.

“Saya senang sekali ada investor dari Amerika Serikat yang akan masuk. Ini kalau bisa harus terealisasi dan bisa menyelesaikan permasalahan sampah di Soloraya,” katanya saat menerima kunjungan dari perwakilan E3i, Medhat Omran, di kantornya, Senin, 3 Agustus 2026.

Sebagai gambaran, kawasan Soloraya memproduksi sekitar 2.944,55 ton limbah setiap harinya. Sayangnya, infrastruktur daerah saat ini belum mampu menangani seluruh volume limbah tersebut. Merespons kondisi ini, Pemprov Jateng terus memacu pembangunan fasilitas Waste to Fuel (sampah menjadi bahan bakar) berkapasitas 1.000 ton per hari guna melayani wilayah Boyolali, Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

“Sudah ada beberapa daerah aglomerasi yang MoU pengolahan sampah, seperti Kota Semarang dan Kendal yang sudah dengan Danantara. Lalu Soloraya juga, tapi itu untuk sampah baru, sampah lama masih dicarikan investor,” ujarnya.

Melengkapi keterangan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, menyoroti target besar pemerintah. Ia menyebut Gubernur Luthfi menargetkan program Jawa Tengah bebas sampah (zero waste) pada tahun 2028. Oleh karena itu, DLHK langsung mengarahkan investor Amerika tersebut untuk fokus membereskan wilayah Soloraya.

“Soloraya itu sampahnya di atas 1000 ton per hari. Investor ini masuk untuk waste to fuel. Nanti tempatnya di Boyolali, sudah ada lahan 20 hektare dari kebutuhan 25 hektare,” jelasnya.

Merespons tawaran strategis pemerintah, Perwakilan E3i ASEAN, Medhat Omran, menegaskan komitmen perusahaannya di bidang energi hijau. E3i berencana membawa teknologi pengolahan limbah menjadi biofuel mutakhir ke Soloraya demi menekan angka penumpukan sampah secara signifikan.

“Semoga proyek ini dapat terwujud di sini, yang akan bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kita menggunakan teknologi baru dengan zero emission. Jadi, ini ramah lingkungan,” katanya.

Proyek ambisius ini berpotensi besar menempatkan Indonesia, khususnya Jawa Tengah, ke dalam peta dunia sebagai pionir energi hijau. Fasilitas pengolahan limbah ini juga memproyeksikan pembukaan lapangan kerja baru yang sanggup menyerap hampir 300 orang tenaga kerja.

“Kita juga berharap dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar fasilitas yang akan kita bangun, sehingga proyek ini akan bermanfaat bagi semua orang dalam banyak hal,” ucapnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA