UMKM Semarang Siap Tembus Pasar Global, Buyer Mesir hingga India Borong Produk Lokal

waktu baca 4 menit
Rabu, 26 Agu 2026 23:21 25 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang sukses menggelar acara puncak program Semarang Rise 2026 di Hotel Gumaya, Semarang, pada Rabu (26/8/2026). Melalui ajang ini, pemerintah daerah tidak sekadar memamerkan ragam produk unggulan lokal, tetapi juga proaktif mempertemukan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara langsung dengan para calon pembeli (buyer) mancanegara demi membuka keran transaksi ekspor.

Puncak kemeriahan acara ini menampilkan prosesi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pelaku UMKM Kota Semarang dan sejumlah buyer asing. Pemerintah mencatat kehadiran para calon pembeli ini mewakili berbagai pasar potensial dunia, mulai dari kawasan Timur Tengah, Mesir, hingga India.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang, Margaritha Mita Dewi Sopa, menjelaskan bahwa Semarang Rise 2026 menjadi manuver strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menggenjot kapasitas UMKM agar segera naik kelas dan memperluas jangkauan mereka ke pasar global.

“Ini merupakan rangkaian puncak dari program Semarang Rise 2026 dalam rangka mendukung program Waras Ekonomi Kota Semarang. Tujuannya agar teman-teman UMKM bisa naik kelas dan berhasil menembus pasar ekspor global,” ujar Mita.

Mita memaparkan, program bergengsi ini tidak hanya berhenti pada sebatas pameran promosi semata. Jauh sebelum acara puncak, panitia mewajibkan para peserta melewati tahapan kurasi ketat dan proses inkubasi untuk mematangkan mental serta kesiapan mereka dalam menghadapi kerasnya persaingan pasar internasional.

Program Semarang Rise 2026 sendiri telah bergulir panjang sejak Juni hingga Agustus 2026. Pemerintah merancang rangkaian kegiatan komprehensif, mulai dari tahap sosialisasi, kurasi produk, pengumuman peserta lolos, penguatan kolaborasi unsur pentahelix, hingga pendampingan inkubasi secara intensif.

Panitia berhasil menjaring 100 UMKM unggulan untuk mengikuti program ini. Para peserta terbagi secara proporsional menjadi 50 pelaku UMKM sektor kuliner dan 50 pelaku UMKM dari sektor kerajinan tangan (craft). Pada sesi acara puncak, seluruh pelaku usaha mendapatkan panggung emas untuk mempresentasikan keunggulan produk, kapasitas produksi, hingga kesiapan pemenuhan kuota langsung di hadapan para buyer internasional.

Mita menilai sesi presentasi ini sangat krusial. Ia mengingatkan para pengusaha bahwa keberhasilan menembus pasar ekspor tidak melulu bergantung pada kualitas produk semata. Pelaku UMKM juga wajib menggaransi stabilitas kapasitas produksi, konsistensi mutu barang, serta keberlanjutan rantai pasokan.

“Melalui program ini kami ingin UMKM tidak hanya memiliki produk yang bagus, tetapi juga siap masuk ke pasar yang lebih luas,” kata Mita.

Sebagai catatan positif, Pemkot Semarang telah merekam keberhasilan 11 UMKM lokal yang sukses merambah pasar internasional sepanjang tahun 2025 lalu. Para pelaku usaha telah rutin mengirimkan produk kebanggaan daerah seperti rengginang, kue jahe, hingga minuman tradisional jamu jun ke luar negeri. Lewat ajang Semarang Rise 2026 ini, pemerintah berharap kehadiran buyer baru sanggup membuka lebih banyak peluang transaksi bagi produk unggulan lainnya.

Manfaat nyata fasilitasi dari pemerintah ini telah dirasakan langsung oleh Hartati Tri Arini, pengusaha sekaligus pemilik jenama La Romzi Etnik. Membuka pusat produksi di Jalan Payung Asri Raya, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, ia berfokus menciptakan berbagai lini busana fesyen berbasis teknik eco print. Hartati sukses memasarkan karya fesyennya melampaui batas dalam negeri, merambah pasar Malaysia, Hong Kong, Sydney, hingga menembus Inggris.

“Eco print kami sering dibawa ke luar negeri. Kami juga sering difasilitasi Dinas Koperasi Kota Semarang untuk mengikuti pameran, bahkan sampai ke luar negeri,” kata Hartati.

Hartati memandang pasar internasional selalu menyimpan potensi raksasa bagi produk kerajinan yang menawarkan karakter otentik dan keunikan visual. Saat ini, La Romzi Etnik memproduksi beraneka ragam perlengkapan mode, mencakup pakaian, kain meteran, syal, tas, topi, hingga kantong (pouch). Dari seluruh koleksi tersebut, varian syal tampil sebagai primadona karena menawarkan fleksibilitas padu padan gaya.

“Syal menjadi salah satu best seller kami. Bahkan satu syal bisa digunakan dalam delapan model,” ujarnya.

Pesona alami teknik eco print menjadi senjata utama penjualan produk Hartati. Setiap jejak motif daun dan tanaman selalu membuahkan karakter visual yang berbeda, sehingga tidak akan pernah ada dua produk yang memiliki corak persis sama.

Keistimewaan inilah yang menyuntikkan nilai eksklusif pada setiap lembar produk di mata konsumen. Selain menonjolkan estetika, Hartati turut menerapkan prinsip keberlanjutan. Ia pantang membuang sisa tanaman bekas produksi begitu saja, melainkan mengolahnya kembali menjadi pupuk organik.

“Produk kami sustainable dan berusaha tidak menghasilkan limbah. Bahkan sisa tanaman kami olah menjadi pupuk,” katanya.

Untuk membawa pulang karya fesyen eco print eksklusif bernilai ramah lingkungan dari La Romzi Etnik ini, konsumen bisa menebusnya dengan harga yang cukup bervariasi, yakni mulai dari Rp95 ribu untuk aksesoris hingga Rp1,2 juta untuk produk pakaian.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA