Sukses Sulap Ribuan Ton Sampah Jadi Energi, Strategi Pemprov Jateng Berbuah Penghargaan Nasional

waktu baca 3 menit
Sabtu, 29 Agu 2026 17:28 18 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah kembali mendulang apresiasi berkat komitmen kuat mereka dalam merawat kelestarian lingkungan di wilayahnya.

Kali ini, Pemprov Jateng sukses merebut penghargaan bergengsi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang berkolaborasi dengan Tempo Media Group. Jawa Tengah memenangkan kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menerima langsung trofi penghargaan tersebut pada perhelatan Malam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali Batch II-2026. Acara penganugerahan ini berlangsung meriah di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, pada Jumat (28/8/2026) malam.

Selain Jawa Tengah, Pemprov Jawa Timur turut memboyong apresiasi pada kategori yang sama. Sementara itu, untuk tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Wonosobo tampil memukau sebagai wilayah terbaik yang mengelola lingkungan ASRI.

Memanfaatkan momentum tersebut, Luthfi membeberkan bahwa Pemprov Jateng telah membagi strategi pengelolaan sampah ke dalam beberapa klaster khusus. Untuk menangani volume sampah raksasa yang menembus seribu ton per hari, pemerintah menerapkan model aglomerasi dan regional guna menyuplai pabrik Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Di sisi lain, pemerintah mengelola timbunan sampah bervolume 100-200 ton per hari menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

Pemprov Jateng mulai mengeksekusi model aglomerasi ini dengan menggandeng lembaga Danantara untuk menyulap tumpukan sampah menjadi energi listrik siap pakai. Strategi ini menyasar kawasan Semarang Raya (Kota Semarang dan Kabupaten Kendal), Pekalongan Raya (Kota dan Kabupaten Pekalongan, Pemalang, serta Batang), hingga Tegal Raya (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Brebes). Skema serupa juga berlaku di aglomerasi Soloraya yang merangkum Surakarta, Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, hingga Salatiga.

Sementara itu, inovasi model RDF telah sukses berjalan di wilayah Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kudus, Magelang, hingga Kebumen. Melalui skema ini, pemerintah daerah menyuplai sampah olahan kepada pabrik semen untuk mereka jadikan bahan bakar alternatif.

Luthfi juga menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan serangkaian skenario untuk mengurai masalah timbulan sampah. Sebagai contoh, Pemprov Jateng berencana merangkul Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) guna mengolah gunungan sampah di TPA Jatibarang Semarang menjadi bahan bakar solar. Lebih lanjut, pemerintah tengah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan serupa di kawasan Soloraya dan mulai mengarahkan para investor untuk membidik peluang bisnis di sektor hijau ini.

Kendati teknologi pengolahan telah tersedia, Luthfi mengingatkan bahwa solusi krisis sampah tidak boleh hanya berfokus pada hilir atau area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semata. Pemerintah menargetkan penanganan komprehensif yang menyentuh akar masalah di sektor hulu. Ia menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada tingkat kesadaran masyarakat dalam memilah sampah harian mereka. Oleh karena itu, Pemprov Jateng terus menggalakkan program desa mandiri sampah sebagai ujung tombak edukasi publik.

Tak hanya berjaya di bidang lingkungan, sejumlah daerah di Jawa Tengah juga memborong apresiasi bergengsi pada ajang nasional ini. Pada kategori akses dan kualitas layanan kesehatan, Kabupaten Rembang tampil sebagai kampiun tingkat kabupaten, menyusul Kota Tegal yang merebut posisi runner-up terbaik untuk tingkat kota.

Prestasi juga mengalir dari sektor pendidikan. Kota Salatiga berhasil membuktikan keunggulannya dengan menyabet predikat terbaik pertama tingkat pemerintah kota pada kategori akses penduduk terhadap layanan pendidikan.

“Dari Jawa Tengah banyak yang dapat penghargaan, termasuk pemerintah provinsi. Ada Kabupaten Rembang, Kota Tegal, Kota Salatiga, dan Kabupaten Wonosobo. Ini menjadi motivasi kita untuk lebih giat dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat,” jelas Ahmad Luthfi.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menegaskan bahwa penciptaan lingkungan ASRI dan pengelolaan sampah modern kini menduduki posisi prioritas dalam agenda pemerintah pusat. Ia mengingatkan bahwa Presiden telah mematok target ambisius agar Indonesia mampu mencapai status bebas sampah (zero waste) pada tahun 2029 mendatang.

Menutup arahannya, Tito menjanjikan bahwa penganugerahan ini tidak sekadar seremonial belaka. Kemendagri siap mencairkan insentif fiskal sebagai bentuk bonus nyata bagi pemerintah daerah yang berhasil membuktikan prestasi mereka dalam mengurus kebutuhan rakyat.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA