Siasati Dampak Rob, Warga Timbulsloko Demak Kembangkan Budi Daya Akuaponik di Lahan Sempit

waktu baca 3 menit
Senin, 31 Agu 2026 14:16 15 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Bencana banjir rob yang terus menelan lahan pertanian memaksa warga Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, untuk memutar otak. Mereka kini proaktif mencari cara alternatif guna memastikan ketersediaan pangan keluarga dengan memanfaatkan sisa lahan yang belum terendam air laut.

Untuk menjawab tantangan krisis lahan tersebut, akademisi memperkenalkan sistem budi daya akuaponik kepada masyarakat setempat. Metode inovatif ini memadukan teknik pemeliharaan ikan dan budi daya sayuran secara bersamaan di dalam satu instalasi yang terintegrasi.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Semarang (USM) terjun langsung menggelar pelatihan budi daya ini khusus untuk kelompok ibu-ibu Wanita Nelayan di Desa Timbulsloko pada Jumat (28/8/2026). Program edukasi ini menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam memberdayakan masyarakat kawasan pesisir.

Ketua Tim PkM USM, Anisa Rachma Sari, memaparkan bahwa rusaknya kondisi ekologi lahan di Timbulsloko sangat menyulitkan warga untuk memproduksi bahan pangan menggunakan metode pertanian konvensional.

Anisa mencatat bencana rob telah menenggelamkan sebagian besar sawah dan tambak milik warga sejak tahun 2016 silam. Situasi sulit ini mendorong para akademisi untuk mengedukasi warga agar memaksimalkan area pekarangan rumah sebagai sumber pangan alternatif rumah tangga.

“Melalui sistem akuaponik, warga dapat memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan ikan sekaligus sayuran,” ujar Anisa.

Selama sesi pelatihan, tim PkM mengajari warga cara merakit instalasi akuaponik menggunakan bahan-barang sederhana yang mudah mereka temukan di sekitar rumah. Warga mempraktikkan langsung cara menyulap barang bekas, seperti galon air mineral kosong, menjadi wadah budi daya yang produktif.

Warga kemudian meletakkan instalasi akuaponik tersebut di area pekarangan yang posisinya masih aman dari jangkauan genangan rob. Selain sangat menghemat ruang, metode cerdas ini menjadi solusi paling ideal bagi masyarakat yang kehilangan lahan bercocok tanam.

Untuk tahap permulaan, tim PkM memilih benih ikan lele dan sayur kangkung sebagai komoditas utama. Tim akademisi memilih kedua jenis komoditas ini karena keduanya terbukti sangat adaptif terhadap cuaca pesisir dan proses perawatannya tergolong mudah bagi pemula.

Tim PkM USM juga membekali warga dengan keterampilan teknis yang presisi. Warga belajar cara menstabilkan tingkat salinitas (kadar garam) air pada angka 3–5 ppt, menerapkan teknik aklimatisasi benih lele agar ikan tidak stres, serta mempraktikkan cara menyemai bibit kangkung di atas media tanam rockwool.

Kehadiran program budi daya ini tidak sekadar membidik target pemenuhan kebutuhan lauk pauk harian keluarga. Lebih jauh, tim USM mendorong warga untuk memutar roda ekonomi mikro dengan mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual tinggi.

Sebagai gambaran, peternak bisa memanen ikan lele dalam kurun waktu 60 hingga 90 hari. Para ibu-ibu nelayan nantinya bisa mengolah daging ikan segar tersebut menjadi aneka ragam produk UMKM lezat, seperti olahan nugget, bakso, maupun lele asap.

Tim USM menaruh harapan besar agar terobosan budi daya di lahan sempit ini sukses menjadi solusi kelangsungan hidup bagi masyarakat pesisir. Dengan pendampingan ini, warga Timbulsloko bisa terus mempertahankan ketahanan pangan mereka di tengah ancaman rob yang terus menggerus lahan produktif desa.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA