Semarang Bebas Abu Vulkanik, Dinkes Minta Warga Tak Panik dan Tetap Waspada

waktu baca 3 menit
Rabu, 9 Sep 2026 16:34 15 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah mengimbau warga Kota Semarang untuk tidak panik namun terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman paparan abu vulkanis Gunung Anak Krakatau. Hingga Selasa (8/9/2026), otoritas terkait belum mendeteksi masuknya sebaran abu vulkanis ke wilayah ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Walaupun kondisi masih aman, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang terus mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan perlengkapan pelindung diri. Langkah preventif ini sangat penting, khususnya bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam, memastikan status sebaran abu vulkanis di wilayahnya masih menunjukkan hasil negatif. Ia mendasarkan pernyataannya pada laporan resmi yang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) rilis baru-baru ini.

“Alhamdulillah surat edaran dari BMKG, kalau memang abu vulkanisnya di Kota Semarang ini masih negatif. Namun, kami tetap menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap waspada,” kata Hakam saat menemui awak media di kantornya, Jalan Pandanaran, Selasa (8/9).

Hakam memaparkan bahwa abu vulkanis memiliki karakteristik yang jauh lebih berbahaya daripada debu biasa. Partikel yang melayang di udara tersebut membawa material beracun yang mengancam kesehatan apabila manusia menghirupnya atau membiarkannya mengenai mata dan kulit secara langsung.

“Ini berisiko karena tidak hanya debu, tetapi ada kandungan kaca, ada SiO2 (silikon), ada besi, ada aluminium,” ujarnya.

Material berbahaya tersebut sangat mudah menyusup ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut. Begitu terhirup, partikel abu vulkanis akan langsung menginfeksi dan memicu iritasi akut pada saluran pernapasan.

“Ketika itu masuk dihirup melalui hidung ataupun mulut, itu pasti akan membuat iritasi di saluran napas,” jelas Hakam.

Kelompok rentan yang memiliki riwayat alergi debu wajib memberikan kewaspadaan ekstra terhadap paparan partikel vulkanis ini. Hakam memperingatkan, paparan yang terjadi secara berulang akan memperparah gangguan pernapasan penderita.

Ia menguraikan lebih lanjut bahwa ancaman kesehatan akibat abu vulkanis bisa bermutasi dari sekadar keluhan pernapasan ringan menjadi risiko infeksi fatal. Penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pneumonia mengintai warga yang abai terhadap proteksi diri.

Menyikapi ancaman tersebut, Dinkes mendesak seluruh lapisan masyarakat untuk disiplin memakai masker setiap kali melangkah keluar rumah, terutama saat kondisi udara memburuk akibat abu vulkanis.

“Supaya tidak terkena hal itu, maka disarankan ketika benar-benar keluar rumah dengan terpaksa, ya harus pakai masker,” tuturnya.

Sebagai wujud mitigasi, Dinas Kesehatan Kota Semarang telah menyiagakan fasilitas medis dan skenario penanganan khusus. Petugas medis siap bergerak cepat merawat warga yang menunjukkan gejala gangguan kesehatan akibat paparan polutan vulkanik.

Terlepas dari berbagai persiapan tersebut, Hakam menaruh harapan besar agar abu vulkanis Gunung Anak Krakatau tidak sampai merambah wilayah Semarang. Pantauan cuaca menunjukkan bahwa hembusan angin saat ini membawa material erupsi bergerak menjauh menuju Samudra Hindia di sebelah barat daya.

“Kalau memang abu vulkanis Gunung Anak Krakatau belum sampai di sini dan mudah-mudahan tidak, karena memang secara angin itu larinya ke Samudra Hindia, artinya ke arah barat daya,” katanya.

Beralih ke isu polusi reguler, pemerintah juga menyoroti kualitas udara Kota Semarang selama puncak musim kemarau. Dinkes secara rutin memantau pergerakan konsentrasi partikel halus (PM2,5) sebagai indikator utama pencemaran udara.

Hakam menegaskan bahwa petugas pemantau belum menemukan lonjakan signifikan pada kadar PM2,5 di wilayah Semarang pascaerupsi hebat Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9) lalu.

“Sebelum ada abu vulkanis, ternyata PM2,5-nya itu tidak ada yang berbeda, artinya sama,” ujarnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA