Kepala Diskominfo Semarang Didik Dwi Hartono.NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengebut pengerjaan proyek penataan kabel udara melalui sistem ducting atau penanaman jaringan utilitas ke bawah tanah. Pemkot menargetkan proyek strategis ini rampung pada akhir Desember 2026 demi membersihkan ruang udara jalan-jalan protokol dari kesemrawutan juntaian kabel.
Program ducting ini merupakan manuver pemerintah untuk mempercantik wajah estetika tata kota. Langkah ini secara khusus menyasar ruas-ruas jalan utama yang menjadi denyut nadi pusat aktivitas bisnis dan kawasan strategis Kota Semarang.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Kota Semarang, Didik Dwi Hartono, membeberkan bahwa pemerintah sebenarnya telah merampungkan infrastruktur ducting di sejumlah ruas jalan. Meski demikian, pihaknya belum bisa mengeksekusi pemindahan seluruh kabel karena harus menggandeng banyak perusahaan operator telekomunikasi penyewa jaringan.
“Ducting sudah ada di beberapa ruas jalan ini. Kita tinggal karena ini butuh kerja sama dengan para operator. Memang Kominfo tidak bisa sendiri karena menyangkut beberapa pihak,” kata Didik.
Didik mencatat setidaknya delapan ruas jalan vital telah memiliki fasilitas jaringan bawah tanah ini. Mayoritas titik tersebut berstatus sebagai jalan protokol yang menampung tingginya volume mobilitas warga setiap harinya.
“Yang sudah ada itu Jalan Pemuda, jalan Pandanaran, jalan Mataram dan sebagainya. Ada delapan ruas jalan yang sudah,” ujarnya.
Walaupun lubang gorong-gorong siap menampung, pemandangan kabel udara belum sepenuhnya lenyap dari langit Kota Atlas. Pemkot Semarang masih perlu menyinkronkan ritme kerja bersama para operator demi mempercepat proses penurunan kabel dari tiang udara ke ruang bawah tanah.
“Jadi itu kita rampungkan dulu yang itu. Masih ada yang di udara juga. Karena itu menyangkut beberapa operator,” jelas Didik.
Pemkot Semarang menancapkan ambisi yang lebih besar dalam menata infrastruktur utilitas daerah. Pemerintah membidik area Segitiga Emas Kota Semarang agar segera steril seratus persen dari gulungan kabel udara yang selama ini merusak pemandangan.
“Iya, rencananya seperti itu. Tujuannya,” kata Didik.
Namun, ambisi besar ini tentu membutuhkan upaya lebih dari sekadar membangun lubang ducting. Pemerintah kini harus menghadapi tantangan teknis serta beragamnya tingkat kesiapan finansial dari masing-masing perusahaan penyedia layanan internet.
Kondisi tersebut memaksa proses pemindahan kabel tidak bisa berjalan secara serentak dalam satu waktu.
“Ductingnya sudah. Cuma ini menyangkut beberapa operator dan kemampuan keuangan mereka berbeda-beda. Jadi enggak bisa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa akar masalahnya bukan terletak pada beratnya pekerjaan fisik untuk memotong dan menurunkan kabel. Kendala terbesar justru muncul saat pemerintah harus memastikan seluruh pemilik kabel benar-benar siap secara finansial memindahkan jaringan mereka ke infrastruktur bawah tanah.
“Kendalanya itu karena kabel itu milik beberapa operator, tidak hanya satu orang,” katanya.
Merespons hambatan tersebut, Pemkot Semarang terus mendorong intensitas pertemuan dan forum koordinasi dengan seluruh perwakilan operator telekomunikasi. Pemerintah berupaya merumuskan satu skema eksekusi terpadu agar tidak ada satu pun perusahaan yang tertinggal dalam program penataan utilitas kota ini.
“Perlu duduk bersama, perlu bareng-bareng karena kemampuan mereka berbeda-beda. Ada yang sudah siap, ada yang belum siap,” tegas dia.
Pada akhirnya, penataan kabel optik memegang peranan sangat krusial bagi masa depan tata kota. Kesemrawutan jaringan udara tidak sekadar mencoreng nilai estetika, tetapi juga memicu ancaman serius bagi keselamatan warga dan memperburuk manajemen tata kelola utilitas perkotaan Semarang.