Tim SAR gabungan perluas pencarian di Pulau Sertung cari 5 jurnalis hilang.NALARMEDIA.COM – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan terus memacu operasi penyelamatan untuk melacak keberadaan lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Memasuki hari keempat pencarian pada Jumat (11/9/2026), regu penyelamat memfokuskan manuver penyisiran di kawasan kepulauan sekitar kawah aktif tersebut, dengan titik tantangan paling ekstrem dan mematikan berada di daratan Pulau Sertung.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, membeberkan bahwa aparat telah memperluas wilayah operasi hari ini hingga menembus radius 3.243,7 nautical mile persegi. Tim memecah area raksasa tersebut menjadi empat sektor utama dan menyiagakan satu sektor pencarian khusus.
“Memasuki hari keempat, kami memperluas area pencarian dengan membagi wilayah menjadi beberapa sektor, termasuk sektor khusus di sekitar lokasi yang menjadi perhatian. Seluruh unsur dan sarana yang tersedia kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” ujar Al Amrad.
Untuk membongkar isolasi medan, pemerintah mengerahkan kekuatan alutsista laut secara besar-besaran. Tim gabungan menerjunkan kapal-kapal tangguh seperti KN SAR Tetuka 247, KN SAR Basudewa, KRI Leuser, KRI Karambit, dan KRI Lepu, bersanding dengan dua unit drone thermal pendeteksi suhu tubuh. Sayangnya, operator drone di atas kapal KN SAR Tetuka sempat menemui jalan buntu akibat tebalnya kepungan kabut asap vulkanik dan cuaca gelap yang menutup total jarak pandang visual dari udara.
Selain gangguan cuaca, kondisi geografis yang brutal dan tingginya ancaman nyawa menjadi batu sandungan paling berat bagi tim lapangan, terutama saat mereka mencoba merangsek masuk ke Pulau Sertung. Secara morfologi, Pulau Sertung berdiri kokoh sebagai salah satu pulau vulkanik di gugusan Kepulauan Krakatau yang posisinya menempel sangat dekat dengan pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Kawasan ini tidak sekadar menyimpan tebing pesisir yang curam dan rapatnya vegetasi hutan tropis sisa letusan purba, melainkan juga menyandang status zona merah. Mengacu pada peringatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), seluruh bentang alam Pulau Sertung terkunci mutlak di dalam radius tiga kilometer dari puncak erupsi. Otoritas menetapkan kawasan ini sebagai daerah rawan bencana level tinggi karena gunung bisa sewaktu-waktu memuntahkan material batu pijar, melepaskan gas beracun, hingga memicu hantaman gelombang laut ekstrem yang datang mendadak.
Ancaman mematikan ini praktis menyudutkan tim SAR dan nelayan relawan ke dalam posisi dilematis. Walau nyawa menjadi taruhan, Al Amrad menegaskan bahwa pasukan penyelamat pantang menyerah mencari celah teraman untuk menembus wilayah terisolasi tersebut tanpa mengorbankan standar keselamatan operasional personel.
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ,” ujarnya.
“Dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” tambah Al Amrad.
Membahas prakiraan cuaca di zona operasi, ahli meteorologi memprediksi langit akan bergerak cerah berawan hingga mendung. Angin berembus kuat dari arah tenggara menuju selatan dengan kecepatan melaju sekitar 10 hingga 20 knot, sementara ombak laut terus bergolak liar pada ketinggian 0,5 sampai 2,5 meter.
Sampai detik ini, nasib delapan penumpang kapal nahas tersebut masih menjadi teka-teki sejak mereka hilang kontak pada Senin (7/9/2026) lalu. Daftar korban mencakup lima awak media, yakni Muhammad Bagus Khoirunas (Antara), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu). Tiga warga sipil lainnya yang menjadi kru kapal, yaitu Warta (kapten), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu wisata), juga belum tim temukan.
Tim SAR gabungan kini bersiaga 24 jam memantau laporan cuaca dari BMKG dan PVMBG demi mengefektifkan sisa waktu pencarian di tengah ganasnya badai Selat Sunda.