Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana (Foto:ANTARA)NALARMEDIA.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi penangguhan operasional dan mengusulkan pencopotan Kepala SPPG Tanggulangin Kalitengah, Sidoarjo. Keputusan ini merupakan buntut dari insiden keracunan massal paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menumbangkan 512 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Otoritas pusat membekukan aktivitas SPPG tersebut selama 30 hari ke depan sembari mendesak percepatan pergantian posisi kepala satuan.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menegaskan bahwa penjatuhan sanksi ini menjadi bukti ketegasan instansinya dalam merespons musibah yang menimpa ratusan pelajar tersebut. Kepala BGN, Sudaryono, juga langsung turun tangan membangun komunikasi intensif dengan kepala daerah setempat serta pimpinan Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Saat ini, pemerintah menaruh prioritas paling utama pada proses penyembuhan para santri yang terdampak.
Di sisi lain, BGN bersama Dinas Kesehatan setempat terus menggali akar masalah melalui investigasi internal guna membongkar penyebab pasti keracunan massal ini. BGN berjanji akan mengumumkan kesimpulan hasil penyelidikan laboratorium tersebut secara resmi kepada publik.
Merujuk pada pembaruan data investigasi BGN, insiden keracunan MBG dari SPPG Tanggulangin Kalitengah ini menelan total 512 korban. Dari angka tersebut, tim medis telah menyatakan 312 santri sembuh dan mengizinkan mereka pulang. Sementara itu, 80 santri masih harus menjalani perawatan intensif, dan 120 orang lainnya berstatus dalam masa observasi medis. BGN memastikan seluruh fokus penanganan saat ini berpusat pada upaya penyelamatan dan pemulihan kesehatan di berbagai rumah sakit rujukan.
Sejalan dengan langkah cepat BGN, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur turut mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangani para korban. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan tim medis merawat setiap pasien secara cermat dan mendetail.
“Seluruh pasien tidak ditangani secara seragam, tetapi mendapatkan penanganan khusus sesuai kondisi medis masing-masing pasien,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak dalam kesempatan terpisah.
Emil menambahkan, hingga Rabu (2/9/2026) pukul 00.30 WIB, pihak rumah sakit telah memulangkan sejumlah pasien setelah kondisi fisik mereka berangsur pulih. Walau demikian, seluruh jajaran tenaga medis dan fasilitas kesehatan tetap bersiaga penuh untuk mengantisipasi potensi kemunculan gejala susulan pada pasien yang masih melewati masa observasi.