Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Glory Nasarani. NALARMEDIA.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menorehkan prestasi gemilang dalam sektor retribusi pelayanan persampahan selama triwulan pertama tahun 2026. Pendapatan dari retribusi ini tidak hanya memenuhi, tetapi sukses melampaui target yang ada. Pencapaian ini menjadi pijakan kuat bagi pemerintah daerah untuk terus mendongkrak kualitas layanan kebersihan bagi masyarakat Kota Semarang.
Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani, menyampaikan bahwa hasil pada triwulan pertama memperlihatkan tren yang sangat positif. Sementara untuk perolehan retribusi sepanjang triwulan kedua, pihak DLH masih melakukan proses rekapitulasi dan evaluasi mendalam.
“Untuk triwulan pertama target sudah tercapai. Sedangkan triwulan kedua masih kami hitung karena proses evaluasi masih berlangsung,” ungkap Glory pada Senin (20/7/2026).
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah mematok target retribusi pelayanan persampahan mencapai Rp55 miliar untuk tahun 2026. Kendati demikian, Pemkot kini tengah mengevaluasi kembali angka tersebut agar lebih proporsional dan selaras dengan kemampuan operasional petugas di lapangan.
Glory menilai bahwa besaran target pendapatan wajib berjalan seirama dengan kapasitas pemerintah dalam melayani masyarakat. Hal ini mencakup ketersediaan armada pengangkut, kesiapan tenaga operasional, hingga luasnya cakupan wilayah pelayanan kebersihan.
“Kami ingin target yang realistis. Jangan sampai target pendapatan tinggi, tetapi kemampuan pelayanan belum mendukung,” ujarnya.
Untuk menggenjot penerimaan retribusi, DLH rutin memperbarui basis data pelanggan. Pemerintah tidak hanya menyinkronkan data dengan pelanggan Perumda Air Minum (PDAM), tetapi juga mulai menyisir dan mendata warga non-PDAM yang selama ini turut merasakan manfaat layanan pengangkutan sampah.
DLH berharap langkah strategis ini bisa menciptakan sistem pembayaran retribusi yang lebih rapi dan tertib. Selain itu, upaya pendataan ini juga bertujuan untuk memperluas jangkauan wajib retribusi di tengah masyarakat.
“Semua warga yang mendapatkan pelayanan pengangkutan sampah akan kami data agar pembayaran retribusi berjalan lebih optimal,” jelas Glory.
Walaupun angka pendapatan sudah menunjukkan hasil yang memuaskan, DLH mengakui bahwa sektor pelayanan persampahan masih menemui sejumlah tantangan. Kendala utama yang mereka hadapi saat ini adalah kurangnya jumlah armada truk pengangkut.
Saat ini, DLH hanya mengoperasikan sekitar 120 hingga 130 unit kendaraan operasional. Padahal, untuk melayani seluruh penjuru Kota Semarang secara maksimal, pemerintah idealnya membutuhkan sekitar 200 armada pengangkut sampah.
Situasi ini memaksa petugas untuk melayani beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS) secara bergantian. Imbasnya, pemerintah terkadang tidak bisa menghindari adanya keterlambatan pengangkutan sampah pada waktu-waktu tertentu.
“Kami tetap berupaya agar setiap TPS mendapat pelayanan setiap hari meskipun armada yang tersedia belum ideal,” tegasnya.
Merespons tantangan tersebut, Pemkot Semarang telah menyusun rencana jangka panjang dengan menyiapkan penambahan armada baru. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat sekaligus mengoptimalkan layanan pengangkutan sampah di masa mendatang.
Pemkot juga akan terus meningkatkan kerja sama dengan pihak ketiga yang memenuhi standar operasional berlaku. Sinergi ini mereka lakukan demi memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kebersihan yang lebih cepat, merata, dan berkualitas tinggi.
Glory turut menambahkan bahwa seluruh armada yang saat ini mengaspal masih dalam kondisi yang layak beroperasi. Meskipun demikian, pemerintah harus mengalokasikan anggaran cukup besar untuk biaya pemeliharaan akibat tingginya intensitas penggunaan kendaraan tersebut.
Dengan penguatan armada, pembaruan data pelanggan, serta peningkatan kualitas pelayanan, DLH optimistis target penerimaan retribusi persampahan tahun 2026 dapat tercapai sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif di Kota Semarang.