Sulap Lahan Mangkrak, UNDIP Kembangkan Sawah Modern Ramah Lingkungan di KHDTK Penggaron

waktu baca 3 menit
Rabu, 26 Agu 2026 23:13 18 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Universitas Diponegoro (UNDIP) sukses menyulap lahan telantar menjadi kawasan produktif. Pihak kampus mengembangkan model sawah modern yang mengandalkan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UNDIP, Penggaron, Kota Semarang. Tim peneliti membangun inovasi pertanian ini di atas lahan bekas persawahan yang sebelumnya mangkrak selama lima hingga enam tahun terakhir.

Saat ini, proyek pengembangan sawah tersebut sudah mencakup dua hektare lahan garapan yang mulai tim tanami bibit padi. UNDIP merancang program ini agar berfungsi sebagai laboratorium lapangan guna menguji efektivitas penerapan teknologi pertanian berkelanjutan, sekaligus mendongkrak tingkat produktivitas kawasan hutan.

Kepala Kantor KHDTK UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, KS, MP., memaparkan bahwa konsep sawah modern ini sangat mengedepankan efisiensi teknologi dan kelestarian alam, serta menekan angka ketergantungan petani terhadap bahan bakar minyak (BBM). Untuk mengairi lahan, pengelola memanfaatkan enam unit panel surya berkapasitas 60 meter kubik per jam yang beroperasi aktif sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” jelasnya.

Pengelola mengambil sumber pasokan air langsung dari aliran sungai terdekat. Berdasarkan hasil uji laboratorium, air sungai tersebut terbukti bersih dan tidak terkontaminasi oleh limbah logam berat. Sementara itu, tim juga telah mengukur tingkat keasaman tanah yang menunjukkan kisaran ideal pada pH 7 hingga 8, sehingga sangat mendukung proses budidaya tanaman padi.

Sebagai langkah awal, tim peneliti menanam varietas padi Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago, yang terkenal sebagai varietas unggul padi gogo untuk karakter lahan kering. Ke depan, UNDIP berencana mengembangkan benih padi unggulan hasil persilangan antara varietas lokal Rojolele dengan padi asli Jepang. Tim peneliti juga bersiap melanjutkan tahapan uji coba penanaman padi merah yang kaya akan nutrisi dan serat, yang sangat bermanfaat bagi para penderita diabetes.

“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis, dan Kerumahtanggaan UNDIP, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., menegaskan bahwa proyek sawah modern di KHDTK Penggaron tidak sekadar mengejar target panen produk pertanian. Pihak rektorat menargetkan kawasan ini mampu berevolusi menjadi pusat pembelajaran dan riset akademik, khususnya berperan sebagai laboratorium pertanian terbuka.

Ia menilai pengelola bisa mengintegrasikan keberadaan lahan pertanian produktif ini dengan pesona wisata alam setempat. Karena itu, pihak kampus menjadikan konsep edu-ekowisata hutan sebagai salah satu kiblat utama dalam pengembangan kawasan KHDTK.

“Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.

Untuk memuluskan misi tersebut, UNDIP berencana menggandeng komunitas mobil jeep lokal guna mendongkrak daya tarik edu-ekowisata hutan Penggaron. Rektorat berharap integrasi lintas sektor antara pertanian, pendidikan, penelitian, dan pariwisata ini sanggup menyulap KHDTK Penggaron menjadi kawasan bernilai ekonomi tinggi yang sarat akan unsur edukasi.

Lebih dari sekadar urusan komersial, UNDIP memastikan posisi masyarakat lokal tetap menjadi pilar paling penting dalam setiap langkah pengembangan kawasan.

“Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.

Oleh karena itu, langkah pemanfaatan kawasan produktif di KHDTK Penggaron tidak melulu mengejar pencapaian akademik dan konservasi lingkungan. Universitas mengarahkan seluruh program ini agar mampu menebar manfaat ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Lewat terobosan sawah modern, aplikasi panel surya, inovasi teknologi pengairan, hingga penguatan lini edu-ekowisata, UNDIP optimistis KHDTK Penggaron kelak berdiri sebagai percontohan nasional. Kawasan ini siap membuktikan bahwa tata kelola lingkungan yang baik mampu mengintegrasikan visi pertanian berkelanjutan, riset kampus, pendidikan, dan konservasi alam, sekaligus mengatrol taraf hidup masyarakat luas.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA