Wali Kota Agustina Pimpin Gerakan Nasional Selamatkan Heritage Maritim, Semarang Siapkan City Archive dan Museum Bahari

waktu baca 4 menit
Kamis, 2 Jul 2026 15:55 58 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa indikator kemajuan sebuah kota tidak sebatas pada pesatnya pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, pemerintah daerah harus mampu menjaga sejarah, identitas, serta memori kolektif masyarakatnya. Berlandaskan visi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggagas Seminar Nasional bertajuk “Menyelamatkan Heritage Kota Maritim: Sejarah dan Pengembangannya” pada rangkaian Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Medan.

Pemkot Semarang menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan seminar ini. Mitra yang terlibat meliputi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (UNIMED), Program Doktor Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Rumah Sejarah Medan, dan Rumah Budaya Tangga Medan. Langkah ini membuktikan komitmen kuat Pemkot Semarang untuk mengintegrasikan pelestarian sejarah ke dalam arah pembangunan kota yang berkelanjutan.

Forum akademik ini mempertemukan sekitar 100 peserta dari kalangan akademisi dan aparatur Pemkot Semarang. Mereka tidak sekadar menggelar diskusi ilmiah, tetapi juga memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun gerakan bersama. Gerakan ini bertujuan menyelamatkan warisan kota-kota maritim Indonesia yang saat ini menghadapi gempuran perubahan iklim, urbanisasi, degradasi kawasan pesisir, hingga ancaman krisis memori akibat derasnya arus informasi digital.

Wali Kota Agustina meyakini bahwa kota yang maju pantang kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu, ia mendorong pelestarian sejarah agar berjalan beriringan dengan pembangunan modern. Strategi ini akan memastikan Semarang terus tumbuh menjadi kota yang kompetitif tanpa harus tercerabut dari akar sejarahnya.

“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan. Kota yang memahami sejarahnya akan memiliki identitas yang kuat, karakter yang jelas, dan arah pembangunan yang berkelanjutan,” tegas Agustina pada Rabu (1/7).

Pemkot Semarang mewujudkan komitmen tersebut dengan merancang pembangunan Semarang City Archive dan Museum Bahari Semarang. Pemerintah memproyeksikan kedua fasilitas ini sebagai pusat dokumentasi sejarah, ruang pendidikan, arena penelitian, wadah inovasi, alat diplomasi budaya, sekaligus destinasi wisata sejarah yang unggul. Pemkot berharap kehadiran dua institusi ini mampu mengukuhkan posisi Semarang sebagai kota maritim kaya sejarah, sekaligus mendongkrak daya saing kota di panggung nasional maupun global.

Saat berbicara di hadapan peserta seminar, Agustina kembali mengingatkan agar masyarakat tidak memandang museum dan arsip kota semata-mata sebagai gudang penyimpanan benda bersejarah. Ia ingin pemerintah menyulap fasilitas tersebut menjadi ruang hidup yang mampu menghubungkan generasi masa kini dengan perjalanan panjang peradaban Semarang sebagai kota pelabuhan kosmopolitan.

Para akademisi yang hadir turut memberikan dukungan penuh terhadap semangat pelestarian ini. Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., menjelaskan bahwa Semarang telah tumbuh menjadi kota maritim jauh sebelum era kolonialisme masuk ke Nusantara. Selama lebih dari seribu tahun, wilayah ini berperan sebagai ruang perjumpaan berbagai bangsa dan kebudayaan, sehingga identitas kosmopolitan tersebut kini menjadi modal penting bagi pembangunan kota modern.

Di sisi lain, Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si., menyoroti urgensi menjaga sejarah di tengah pesatnya era digital. Ia menilai ancaman terhadap warisan sejarah saat ini tidak hanya datang dari kerusakan fisik bangunan, tetapi juga menyusup lewat disinformasi, hoaks sejarah, dan bias teknologi. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk terus mengembangkan digitalisasi arsip dan memperkuat literasi sejarah sebagai langkah perlindungan strategis.

Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S., memberikan perspektif yang lebih meluas mengenai isu ini. Ia menekankan bahwa seluruh elemen bangsa wajib menjadikan penyelamatan situs-situs maritim Nusantara sebagai agenda nasional demi merawat bukti nyata kejayaan peradaban bahari Indonesia.

Sementara itu, akademisi dari Leiden University, Belanda, Prof. Dr. Suryadi, M.A., memaparkan pentingnya menjalin kerja sama internasional. Ia mendorong percepatan digitalisasi dan repatriasi arsip kolonial yang sampai sekarang masih mengendap di berbagai lembaga di Belanda. Ia menilai arsip-arsip tersebut memegang peranan strategis untuk merekonstruksi sejarah kota-kota maritim Indonesia, khususnya Semarang.

Pemkot Semarang langsung mengambil dua langkah nyata secara serentak bersamaan dengan pelaksanaan seminar tersebut. Langkah ini menjadi bukti konkret komitmen mereka terhadap pelestarian sejarah.

Langkah pertama melibatkan penyerahan artefak dan arsip peradaban maritim koleksi Dr. Jimmy Lassang Manahara Siahaan, M. CP. Pemkot Semarang menerima koleksi berharga ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap upaya masif menyelamatkan warisan sejarah bangsa.

Langkah kedua adalah proses repatriasi atau pengembalian Warisan Sejarah Surat Kabar Semarang periode 1858–1942 dari Rumah Sejarah Medan kepada Pemkot Semarang. Pemerintah menilai pengembalian arsip bersejarah ini sebagai tonggak penting untuk merajut kembali memori kolektif Kota Semarang, sekaligus meletakkan fondasi utama bagi pengembangan Semarang City Archive.

Bagi jajaran Pemkot Semarang, indikator keberhasilan membangun kota tidak sebatas pada kemampuan menyediakan jalan yang mulus, kawasan yang tertata rapi, atau infrastruktur yang serba modern. Lebih esensial dari semua itu, pemerintah juga harus mampu menjaga identitas kota agar akar budayanya tetap hidup dan bernapas di tengah dinamika masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng, Pemkot Semarang terus membuktikan bahwa pelestarian sejarah memegang peran krusial sebagai strategi pembangunan kota. Dengan merajut warisan masa lalu dan inovasi masa depan secara harmoni, Semarang sukses menjaga jejak peradabannya. Kota ini sekaligus memantapkan posisinya sebagai kota maritim yang maju, berbudaya, berdaya saing tinggi, dan siap tampil sebagai rujukan nasional dalam tata kelola heritage perkotaan.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA