Pakar Undip Tegaskan Pentingnya Edukasi dan Kolaborasi Lintas Sektor Tangani Banjir Semarang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 30 Mei 2026 20:35 1 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Kalangan akademisi merespons positif penjelasan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, terkait rumitnya penanganan banjir di ibu kota Jawa Tengah ini. Prof. Dr. Ir. Sriyana, MS., Pakar Hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) yang juga memimpin Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Jawa Tengah, menegaskan bahwa kondisi alam dan tata ruang Kota Semarang mutlak menuntut strategi penanganan yang terintegrasi.

Sriyana menjelaskan, kombinasi cuaca ekstrem dan keunikan geografis lokal memicu banjir bandang di kawasan Ngaliyan beberapa waktu lalu. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 14–15 Mei 2026 menunjukkan curah hujan lebat berintensitas 50 hingga 100 milimeter per hari melanda wilayah tersebut. Tingginya debit air ini secara langsung membebani kapasitas Sub-Sistem Drainase Kali Silandak.

“Masyarakat perlu memahami bahwa bentuk Daerah Aliran Sungai atau DAS di Ngaliyan itu cenderung bulat, ibarat sebuah mangkuk raksasa. Secara alamiah, kalau hujan lebat turun, air dari segala penjuru perbukitan akan meluncur dan berkumpul ke satu titik dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, muncul puncak aliran air yang sangat tajam sehingga risiko banjir menjadi tinggi dalam waktu singkat. Ini berbeda dengan wilayah yang bentuk DAS-nya memanjang, sehingga hidrograf yang yang dihasilkan lebih landai dan risiko banjir perlu waktu lebih lama,” ujar Sriyana, Jumat (29/5).

Berbagai masalah di kawasan hulu turut memperparah kondisi alamiah ini, seperti maraknya alih fungsi lahan, ledakan populasi penduduk, dan minimnya area resapan air. Perubahan tata ruang tersebut otomatis memicu erosi hebat saat hujan deras melanda. Tanah dari hulu kemudian turun dan membentuk sedimentasi lumpur pekat di hilir. Tumpukan lumpur inilah yang akhirnya menyumbat selokan lingkungan dan membuat air meluap merendam pemukiman warga di kawasan Purwoyoso.

Secara umum, Sriyana menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah membangun infrastruktur makro yang cukup baik. Sayangnya, tumpukan sampah dan menjamurnya bangunan liar di bantaran sungai membuat kinerja sistem drainase menurun drastis. Pemkot Semarang juga menghadapi tantangan berat karena harus mengelola pompa drainase yang jumlahnya terus bertambah di tengah keterbatasan anggaran operasional dan pemeliharaan.

“Penanganan sistem tata air modern tidak bisa lagi memakai pola lama atau dibebankan kepada satu instansi saja. Kita harus melihat bentang alam dari unit terkecil, yaitu tingkat kelurahan. Ada delapan unsur yang harus bergerak bersama dalam pendekatan Octa Helix, mulai dari Pemerintah Pusat melalui BBWS untuk sungai besar, DPU untuk drainase sekunder, Disperkim untuk saluran lingkungan, hingga keterlibatan akademisi, TNI dan Polri, masyarakat, politik, serta media. Kita butuh aksi nyata, konsistensi, dan keberanian untuk berpikir global, bertindak lokal, demi Kota Semarang tercinta,” lanjutnya.

Untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, Sriyana mendorong pengurus RT dan RW agar memperkuat kapasitas kelembagaan mereka. Ia mengusulkan agar pemerintah mengalokasikan dana Rp25 juta per tahun di tingkat RT khusus untuk menggerakkan program pengelolaan sampah mandiri (Zero Waste). Gerakan ini bertujuan menuntaskan pemilahan sampah langsung dari rumah tangga, sehingga sampah tidak lagi hanyut dan menyumbat saluran drainase kota.

Menanggapi masukan tersebut, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyambut positif seluruh saran konstruktif dari pakar Undip. Ia memastikan edukasi publik akan menjadi pilar utama Pemkot Semarang dalam menata lingkungan ke depannya. Agustina juga menekankan bahwa pihaknya terus menjalin koordinasi intensif dengan BBWS Pemali Juana untuk mengeruk sungai utama, sembari mengerahkan dinas teknis kota guna membersihkan saluran air warga.

“Kami sangat berterima kasih atas analisis dari Prof. Sriyana. Pandangan dari beliau ini memperjelas peta masalah bahwa urusan banjir saling mengunci dari hulu sampai ke hilir, bahkan sampai ke kebiasaan kita di rumah masing-masing. Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus berkolaborasi lintas sektor, tetapi kami juga mengajak warga untuk ikut merawat saluran, tidak menutup lubang kontrol drainase, dan mulai memilah sampah dari rumah,” tutur Agustina.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA