Perluas Perhatian untuk Penggerak Keagamaan, Wali Kota Agustina Pastikan Penerima Bisyaroh di Semarang Hampir Tembus 10 Ribu Orang

waktu baca 3 menit
Rabu, 8 Jul 2026 13:20 43 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, terus membuktikan komitmen kepemimpinannya melalui berbagai kebijakan yang berpihak pada para pengabdi masyarakat di bidang keagamaan dan layanan sosial.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kini memperluas cakupan penerima insentif atau bisyaroh bagi para modin, guru mengaji, guru Madrasah Diniyah (Madin), guru Raudhatul Athfal (RA), hingga petugas kemakmuran masjid (marbot). Langkah strategis ini menjadi wujud nyata penghargaan pemerintah atas dedikasi mereka dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial dan spiritual warga.

Kebijakan pro-rakyat ini terlihat jelas dari lonjakan tajam jumlah penerima bisyaroh. Pada tahun 2025, pemerintah daerah hanya menyasar 6.572 orang, namun angka ini melesat naik menjadi 9.992 orang pada tahun 2026. Penambahan kuota ini membuktikan keseriusan Pemkot Semarang untuk memastikan semakin banyak penggerak keagamaan mendapat sokongan finansial dari negara.

“Kami ingin negara hadir melalui Pemerintah Kota Semarang untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan. Peran modin, guru mengaji, guru madrasah, marbot, dan seluruh penggerak keagamaan sangat besar dalam menjaga harmoni sosial dan membangun karakter masyarakat. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” ujar Agustina pada Selasa (7/7/2026).

Pemkot Semarang mencatat peningkatan kuota yang sangat signifikan pada beberapa kelompok penerima. Jumlah guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) penerima manfaat bertambah dari 3.000 menjadi 4.000 orang. Sementara itu, kuota untuk guru Madin meningkat dari 1.000 menjadi 1.390 orang.

Pemerintah juga menaikkan porsi marbot penerima insentif dari 531 menjadi 885 orang, dan bahkan mematok target hingga 1.000 penerima pada tahun 2027 mendatang.

Tidak berhenti di situ, pemerintah juga membawa kabar gembira bagi para pendidik yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemkot Semarang sukses menyalurkan dukungan bisyaroh kepada 320 orang guru RA yang sebelumnya belum pernah tersentuh program apresiasi ini.

Secara khusus, Pemkot Semarang mengalokasikan bisyaroh senilai Rp1.000.000 per bulan untuk setiap petugas modin di wilayahnya. Pemerintah menyalurkan insentif tersebut dengan sistem rapel setiap tiga bulan sekali (triwulanan).

Agustina membeberkan komitmen penuh tersebut saat menghadiri acara Pengukuhan Pengurus Paguyuban Pengurus Jenazah Semarang (P2JS) atau Modin Kota Semarang periode 2026–2031. Pada momen yang sama, ia juga membuka agenda Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi para modin se-Kota Semarang di kompleks Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Panitia penyelenggara secara resmi mengukuhkan 18 orang pengurus P2JS periode 2026–2031 di bawah pimpinan Widodo Lestari, S.Ag. Sementara itu, pemerintah menggelar pelatihan pemulasaraan jenazah tersebut secara bertahap selama dua hari. Skema ini bertujuan memastikan seluruh 1.000 modin di Kota Semarang bisa mengikuti pembekalan ilmu tersebut.

Di hadapan para peserta, Agustina kembali menegaskan janji dan komitmennya. Ia menjamin seluruh modin di Kota Semarang pasti akan mendapatkan bisyaroh sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara atas pengabdian tulus mereka.

“Saya berkomitmen bahwa semua modin harus dapat bisyaroh ini. Mereka menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, hadir mendampingi warga di saat-saat paling sulit. Pemerintah Kota harus memberikan dukungan dan penghargaan yang layak atas pengabdian tersebut,” tegasnya.

Sang Wali Kota turut melontarkan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pahlawan sosial ini. Ia menyadari bahwa tugas pokok modin tidak sekadar mengurus proses pemulasaraan jenazah secara teknis, melainkan juga tampil sebagai pilar penguat batin bagi keluarga yang tengah berduka.

Ia menilai peran mulia tersebut memegang posisi penting dalam sistem pelayanan sosial yang selama ini menjelma menjadi kekuatan utama masyarakat Kota Semarang.

Ke depan, Pemkot Semarang berjanji akan terus mengevaluasi dan memperluas jangkauan penerima bisyaroh. Langkah ini akan pemerintah jalankan beriringan dengan laju pertumbuhan penduduk serta dinamika kebutuhan pelayanan di seluruh tingkat kelurahan.

Kebijakan ini menegaskan arah dan visi kepemimpinan Wali Kota Agustina. Ia ingin memastikan roda pembangunan tidak melulu berfokus pada megaproyek infrastruktur fisik semata, melainkan juga menyentuh pemberian penghargaan kepada sosok-sosok penjaga nilai sosial, keagamaan, dan kemanusiaan di akar rumput masyarakat.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA