Julian Alvarez, Bocah yang Terlahir Menjadi Pesepak Bola

waktu baca 4 menit
Selasa, 14 Jul 2026 15:08 42 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Rutinitas Julian Alvarez tidak pernah berhenti meski sesi latihan utama telah usai. Saat rekan setimnya memilih pulang, les bahasa Inggris, atau latihan tenis, Alvarez justru meminta bola ekstra kepada pelatihnya, Rafael.

Ia melatih umpan silang, tendangan bebas, penalti, hingga sundulan dari berbagai sudut. Alvarez terus mengasah sentuhan pertamanya menggunakan kedua kaki dalam keheningan tanpa mengharapkan sorakan. Dedikasi luar biasa ini konsisten ia buktikan bahkan sebelum usianya mencapai sepuluh tahun.

Alvarez menghabiskan masa kecilnya di Calchin, sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 3.500 jiwa di kawasan tengah Cordoba, Argentina. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan mentalitas layaknya pemain profesional meski belum ada jaminan karier pasti di dunia sepak bola. Ia terus berlatih dan bertanding seolah-olah realitas impiannya itu sudah terjadi.

Tumbuh dari keluarga pekerja keras yang berpegang pada kesederhanaan, bintang tim nasional Argentina ini selalu menghabiskan waktu di lapangan umum kampung halamannya. Meski terkenal pemalu dan pendiam, Alvarez selalu memberikan jawaban meyakinkan saat guru sekolah dasar bertanya tentang cita-citanya: “Seorang pesepak bola.”

Sejak usia dua tahun, ia rutin mengikuti kedua kakaknya, Agustin dan Rafael, ke sekolah sepak bola Futuras Estrellitas. Berbeda dengan anak seusianya yang mudah mengeluh soal cuaca, Julian kecil justru asyik bermain dengan bola yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Ia sangat mengagumi dan berusaha meniru gerakan kakak-kakaknya karena keinginan kuat untuk sukses.

Sang nenek, Tita, sering mengambil peran mengantar Julian karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ibunya, Mariana, bekerja sebagai guru taman kanak-kanak, sementara ayahnya, Gustavo, adalah pekerja perdesaan yang kemudian beralih ke sektor transportasi.

Bakat besar Alvarez sudah terlihat sejak dini oleh pelatih pertamanya, Rafael Varas. “Saya ingat menatap neneknya suatu hari dan berkata, ‘Bocah ini akan menyelamatkan kita semua’,” ungkap Rafael Varas kepada FIFA.

Varas melatih Alvarez sejak usia empat hingga 12 tahun. Kini, Club Atletico Calchin turut merasakan dampak positif meroketnya karier sang pemain. Dana kompensasi pembinaan dari kepindahan Alvarez ke River Plate, Manchester City, dan Atletico de Madrid sukses membantu klub membangun lapangan standar profesional dan sistem irigasi otomatis yang dulunya mustahil terwujud.

Penyerang berusia 26 tahun ini tidak membutuhkan waktu lama untuk bersinar. Sejak laga-laga perdananya, ia selalu tampil di kelas berbeda dan langganan menempati puncak daftar pencetak gol terbanyak di setiap kelompok umur. Ia juga selalu terbuka menerima masukan demi mengembangkan kecerdasannya membaca permainan.

Varas mengenang satu aksi magis Alvarez saat memborong empat gol ke gawang Defensores de James Craik pada usia 11 atau 12 tahun. Ia merangsek ke kotak penalti, melewati dua bek, mengecoh kiper, dan mencetak gol dengan tendangan rabona. “Keluarga dan teman-teman dari kedua belah pihak bertepuk tangan memberikan standing ovation untuk gol tersebut. Setelah peluit panjang berbunyi, seluruh pemain lawan menghampirinya untuk berjabat tangan,” kenang Varas.

Bakat luar biasa ini membuat River Plate, Boca Juniors, dan Renato Cesarini tertarik merekrutnya. Namun, keluarga Alvarez menolak tawaran tersebut selama beberapa tahun demi mempertahankan kehidupan sederhana yang berdampingan dengan alam di Calchin.

Bagi Alvarez, kota kelahirannya memiliki tempat yang sangat istimewa. “Ketika saya mendengar nama Calchin, saya langsung teringat pada teman-teman dan keluarga saya. Kota itu adalah wujud masa kecil saya. Kota tersebut telah memberikan begitu banyak hal bagi saya, dan saya menetap di sana hingga berusia 15 tahun. Itu adalah tahun-tahun yang indah, dengan kenangan yang akan selalu saya hargai,” tutur Alvarez kepada FIFA.

Sempat ada keraguan dari publik saat Alvarez menolak merantau lebih awal. “Ada saja pihak-pihak yang berpikir bahwa ia telah melewatkan kesempatannya, bahwa usianya sudah terlalu tua,” kenang Varas. Namun, Alvarez membuktikan keputusannya tepat saat ia akhirnya berangkat ke River Plate dan mencatat debut tim utama di bawah asuhan Marcelo Gallardo pada Oktober 2018.

Kini, pamor Calchin semakin membesar pascagemilang keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia FIFA 2022. Banyak wisatawan singgah untuk melihat tempat kelahiran sang bintang, sementara anak-anak muda lokal mendambakan jejak kesuksesannya.

Di masa kecilnya, Julian mendapat julukan “Spider” atau laba-laba karena kemampuan fisiknya yang sangat prima. Ia seolah memiliki banyak lengan dan kaki yang mampu menjangkau setiap jengkal lapangan dengan cepat untuk mengejutkan lawan yang lengah.

Meski kini menjadi standar kebanggaan kota, Alvarez tetap menjaga privasinya agar tidak terlalu mencolok setiap kali pulang. “Setiap kali ia pulang, ia sangat menjaga privasinya, menghabiskan waktu bersama teman-teman dan keluarganya. Wajar saja, jika kabar kepulangannya menyebar luas setiap saat, seluruh penjuru kota pasti akan mengantre di depan rumahnya. Dan mengingat sifat Julian yang kita kenal, ia pasti akan membukakan pintu untuk semua orang,” jelas wali kota Calchin, Claudio Caon.

Sang wali kota meyakini bahwa pesona dan budaya Calchin tidak akan pernah pudar di mata sang bintang. “Saya percaya bahwa ketika seseorang bertumbuh dan mencapai puncak kejayaan, mereka pada akhirnya akan kembali ke akar mereka. Di sinilah ia dibesarkan, di tempat di mana ia diajarkan berbagai pelajaran hidup. Budayanya ada di sini.”

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA