Libur Sekolah Berdampak Positif, Volume Sampah di Semarang Turun 69,59 Ton per Hari

waktu baca 3 menit
Minggu, 19 Jul 2026 17:24 37 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang membukukan tren positif terkait penurunan volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang. Momen libur panjang sekolah sepanjang 22 Juni hingga 13 Juli 2026 terbukti sukses menekan jumlah produksi sampah harian warga secara signifikan.

Mengacu pada basis data DLH, petugas hanya mengangkut rata-rata 865,78 ton sampah per hari selama tiga pekan masa liburan tersebut. Angka ini merosot tajam jika kita membandingkannya dengan catatan sebelum masa libur yang menembus angka 935,38 ton per hari, di mana titik tertingginya bahkan sempat menyentuh 1.058 ton.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarani, mengonfirmasi data tren penurunan muatan harian TPA tersebut.

“Saat libur sekolah memang ada pengaruhnya pada volume sampah di Kota Semarang. Data tercatat selama tiga minggu sebelum liburan rata-rata volume sampah sebesar 935,38 ton, sedangkan selama masa liburan rata-rata tonase sampah yang masuk ke TPA turun menjadi 865,78 ton per hari. Artinya, ada penurunan tonase sampah rata-rata hingga 69,59 ton per hari,” ujar Glory, Jumat (17/7/2026).

Glory menakar bahwa penurunan tajam ini bersumber dari sektor limbah rumah tangga. Ia mengamati keluarga di Semarang cenderung mengurangi aktivitas memasak saat liburan karena mereka lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah atau langsung membeli makanan siap saji. Padahal, sampah organik seperti sisa makanan dan limbah dapur inilah yang selama ini mendominasi tumpukan sampah di TPA Jatibarang.

“Kalau libur sekolah, aktivitas memasak cenderung berkurang dan tidak seintens saat anak-anak masuk sekolah. Setelah kami cek, sampah dari mal, hotel maupun tempat wisata jumlahnya relatif tidak banyak berubah, bahkan hampir sama dengan hari-hari biasa,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa DLH sama sekali tidak menemukan adanya lonjakan produksi sampah dari kawasan pariwisata maupun perhotelan di tengah tingginya arus wisatawan.

“Dari perkiraan kami sementara, pengurangan sampah memang yang dominan berasal dari rumah tangga. Untuk hotel dan tempat wisata tidak ada peningkatan jumlah sampah yang berarti. Sampah rumah tangga, terutama sampah organik, masih menjadi penyumbang terbesar,” ungkap Glory.

Meskipun tren penurunan ini sangat menggembirakan, DLH Kota Semarang menaruh harapan besar agar masyarakat bisa mempertahankan kebiasaan baik ini secara konsisten. Pemerintah terus mengampanyekan gerakan memilah sampah sejak dari sumbernya. Warga bisa mengolah limbah organik menjadi kompos mandiri, dan menyalurkan barang anorganik ke fasilitas bank sampah demi meringankan beban kapasitas TPA Jatibarang.

“Tren selama liburan sekolah kemarin cukup baik. Harapannya setelah aktivitas kembali normal, volume sampah tetap stabil bahkan terus menurun. Kami terus mendorong budaya pilah dan olah sampah mulai dari rumah tangga, termasuk melalui peran ibu-ibu PKK, agar dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” pungkasnya.

Fakta ini membuktikan bahwa ritme aktivitas warga memegang peran vital dalam mengontrol jumlah produksi sampah harian kota. DLH mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mendongkrak kesadaran kolektif dalam mengurangi, memilah, dan mengolah limbah rumah tangga.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA