Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Joko Widodo. NALARMEDIA.COM – Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo, mengklarifikasi simpang siur informasi mengenai kematian ‘Anggun’, harimau putih Benggala koleksi Semarang Zoo. Satwa langka ini mati usai pengelola memindahkannya ke sebuah kebun binatang di Sumatra Utara.
Joko memastikan bahwa seluruh proses pertukaran satwa tersebut sudah mematuhi standar operasional dan mendapat izin resmi dari pihak otoritas konservasi.
Pria yang akrab disapa Jokowi ini menerangkan bahwa pemindahan Anggun masuk dalam program penganekaragaman satwa oleh lembaga konservasi. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan populasi satwa serta mencegah risiko perkawinan sedarah (inbreeding).
“Pertukaran satwa ini merupakan bagian dari program penganekaragaman satwa. Karena Semarang Zoo adalah lembaga konservasi, seluruh prosesnya sudah mendapatkan izin dari instansi konservasi dan seluruh administrasi telah dipenuhi,” ujar Jokowi.
Ia juga menepis isu yang mengaitkan kematian Anggun dengan faktor kelaparan atau penyakit sebelum masa pengiriman. Pihaknya meyakini tim Semarang Zoo menjalankan tahap pemindahan sesuai regulasi yang berlaku.
Selain itu, Joko menolak tegas rumor yang menuding kesalahan pemberian dosis anestesi atau bius sebagai pemicu kematian sang harimau. Ia menganggap spekulasi tersebut tidak masuk akal mengingat ketatnya tahapan pemindahan yang tim medis lalui.
“Harimau hanya dibius saat dipindahkan dari kandang ke kandang pengiriman. Setelah sadar sepenuhnya, baru proses pengiriman dilakukan. Jadi menurut saya, sulit jika dikaitkan dengan kesalahan anestesi,” katanya.
Ia menguraikan fakta bahwa Semarang Zoo mengirim Anggun bersama satu ekor harimau putih lain dalam program pertukaran tersebut. Oleh karena itu, jika memang ada malapraktik anestesi, dampaknya pasti akan mengenai kedua satwa secara bersamaan.
“Harimau yang dikirim itu sepasang. Kalau memang penyebabnya karena kesalahan prosedur anestesi, logikanya keduanya akan mengalami kondisi yang sama. Karena itu kami menilai informasi tersebut perlu diluruskan,” tegasnya.
Mengakhiri penjelasannya, Joko mengimbau publik untuk bersabar menanti hasil investigasi dan rilis teknis dari instansi terkait. Hal ini penting agar masyarakat tidak membuat kesimpulan prematur mengenai penyebab kematian Anggun.
Sebagai kilas balik, manajemen Semarang Zoo mengirim Anggun ke R Zoo di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, pada 17 Maret 2026. Sepasang harimau putih itu kemudian sampai di lokasi tujuan pada 21 Maret 2026 sekitar pukul 03.00 WIB.
Mengutip laporan pengelola R Zoo, nafsu makan Anggun menyusut drastis selama menempuh perjalanan dan kondisinya tak kunjung pulih setibanya di sana. Selang beberapa hari, tim medis menemukan pembengkakan (abses) pada bagian bahu kanan satwa tersebut.
Lebih lanjut, hasil pemeriksaan medis mendeteksi adanya gangguan pada fungsi organ hati dan ginjal Anggun. Di sisi lain, rangkaian uji laboratorium terkait infeksi virus justru menunjukkan hasil negatif. Namun nahas, tepat pada 27 Maret 2026 atau sekitar sepuluh hari pasca-pemindahan, tim medis menyatakan Anggun telah mati.
Sampai saat ini, teka-teki penyebab utama kematian harimau Benggala tersebut masih mengundang sorotan luas. Semua pihak masih menanti publikasi hasil kajian mendalam dari instansi yang memegang otoritas konservasi.