Cara Unik ATCS Semarang Tegur Pelanggar, 5 Operator Pantau Puluhan Layar Setiap Hari

waktu baca 5 menit
Kamis, 13 Agu 2026 02:37 17 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – “Mas, naik motor itu pakainya helm, bukan bawa pancing.” Kalimat jenaka ini menggema dari pengeras suara sebuah lampu lalu lintas (traffic light). Namun, teguran dari petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang tersebut bukanlah sebuah candaan semata.

Aksi petugas saat menegur pengendara motor tak berhelm ini sukses viral di berbagai platform media sosial. Akun @atcskotasmg mengunggah momen unik tersebut dan berhasil meraup perhatian penonton hingga 5,9 juta kali.

Dalam rekaman video itu, petugas menyoroti seorang warga yang asyik mengendarai motor tanpa pelindung kepala, tetapi justru membawa joran pancing.

“Lho malah ketawa, jenengan juga nggak bawa helm, lho. Hayo, ini mau gimana? Pancingnya ditukar helm apa?” ujar petugas dalam video tersebut.

Petugas melontarkan teguran itu dengan gaya yang sangat santai. Mereka sengaja menghindari nada membentak atau ancaman penilangan langsung.

Admin media sosial ATCS juga memoles video tersebut dengan sentuhan penyuntingan yang ringan. Mereka menyisipkan karakter kucing lucu agar teguran kepada pelanggar jalan terasa lebih menghibur bagi warganet.

Meski kontennya mengundang gelak tawa, rutinitas di balik layar berbanding terbalik. Sebanyak lima operator ATCS (Area Traffic Control System) bekerja serius dalam satu sif untuk memelototi kondisi lalu lintas lewat puluhan layar monitor.

Para operator ini mengawasi tangkapan kamera CCTV yang terhubung langsung dengan sejumlah persimpangan strategis dan lampu lalu lintas di seluruh penjuru Kota Semarang. Begitu menemukan pelanggaran, mereka langsung menyalakan mikrofon dan menegur si pelanggar melalui pengeras suara.

Operator ATCS Dishub Kota Semarang, Visna, mengungkapkan bahwa ia kerap menemukan pelanggaran justru saat kendaraan berhenti menunggu lampu hijau.

“Memang setiap menit ketika di lampu merah pasti ada yang melanggar. Makanya kita ingatkan untuk tertib, misalnya memakai helm,” katanya.

Visna sendiri sudah mengabdi sebagai operator ATCS selama kurang lebih delapan tahun. Sepanjang karirnya, ia rutin mengawasi tingkat kepadatan arus kendaraan sekaligus memantau perilaku para pengguna jalan.

Ia memetakan kawasan Simpang Tlogosari sebagai salah satu titik dengan jumlah pelanggaran terbanyak. Selain itu, persimpangan Indraprasta dan Jalan Pemuda juga menuntut perhatian ekstra dari para operator.

“Pelanggar paling banyak di Simpang Tlogosari, lalu di Simpang Indraprasta dan Jalan Pemuda. Intinya di jalan besar yang dekat permukiman, masih ada yang belum menganggap helm itu penting,” ungkapnya.

Menariknya, para petugas ATCS ini tidak pernah menyiapkan naskah khusus saat menegur pengendara nakal. Kalimat yang keluar dari pengeras suara murni hasil spontanitas mereka. Operator meracik kalimat teguran dengan menyesuaikan situasi yang tergambar langsung di layar monitor.

“Kata-kata untuk menegur itu pakai bahasa sehari-hari, secara spontanitas saja,” ujar Visna.

Petugas memilih gaya komunikasi santai ini agar imbauan tidak terkesan kaku. Mereka berharap pengendara menyadari kesalahannya tanpa merasa malu atau terhina di depan umum.

Visna membeberkan ragam pelanggaran yang sering tertangkap kamera. Tak cuma soal helm, operator juga sering mendapati pengendara yang nekat menerobos marka jalan hingga menutupi area zebra cross.

Belakangan ini, ia juga menyoroti fenomena banyaknya orang tua yang mengabaikan penggunaan helm saat mengantar atau menjemput sang buah hati.

“Akhir-akhir ini yang saya lihat pengendara yang tidak memakai helm itu ibu-ibu ketika antar-jemput anak sekolah,” ungkapnya.

Para pengendara pun menunjukkan reaksi yang beragam saat mendengar “suara gaib” tersebut. Beberapa orang langsung membetulkan posisinya, namun tak sedikit pula yang malah tertawa, bersikap acuh, hingga memamerkan raut wajah kesal.

“Kadang ada yang ketawa, tapi ada juga yang marah kalau dilihat dari mimik wajahnya. Intinya kita tidak boleh lelah mengingatkan pengendara untuk tertib,” katanya.

Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, memaparkan bahwa pemerintah sebenarnya sudah cukup lama memanfaatkan sistem ATCS ini untuk memantau kelancaran arus sekaligus memberikan imbauan langsung kepada pengguna jalan.

Menurut Danang, instansinya sengaja menerapkan pendekatan humanis dan jenaka agar masyarakat lebih mudah menerima pesan keselamatan berlalu lintas.

“Kami berusaha menggugah kesadaran untuk tertib berlalu lintas. Salah satunya dengan pendekatan yang jenaka atau hal-hal yang lucu,” katanya.

Ia menegaskan bahwa viralnya video tersebut hanyalah bonus, bukan tujuan utama instansi. Imbauan tersebut merupakan langkah nyata pemerintah dalam membangun kesadaran kolektif publik soal keamanan dan keselamatan berkendara.

“Prinsipnya adalah membangun kesadaran untuk keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas,” ujar Danang.

Danang merinci bahwa teguran ATCS ini berperan sebagai langkah preventif sebelum pihak berwajib melakukan penindakan hukum. Instansinya selalu menyimpan rekaman kamera sebagai basis data untuk aparat kepolisian.

“Data ini siap diserahkan ke Kepolisian jika memang dibutuhkan sebagai bentuk penilangan,” jelasnya.

Saat ini, Dishub Kota Semarang terus memperluas jangkauan pemantauan ATCS. Dari total 100 lebih titik lampu lalu lintas, pemerintah sudah mengintegrasikan 52 titik ke dalam sistem pintar ini.

Tim Dishub memantau seluruh titik tersebut melalui 77 unit layar monitor di ruang kendali khusus. Kecanggihan kamera ini bahkan memungkinkan operator menyorot satu objek dari berbagai sudut demi memperluas radius pengawasan.

Pertumbuhan sistem ini terbilang sangat masif. Pada fase awal, Dishub hanya mengelola tiga titik ATCS. Sekarang, jaringannya sudah merambah hingga lebih dari 50 lokasi, mencakup kawasan padat di pusat kota hingga rentang jalur lalu lintas nasional.

Ekspansi teknologi ini sukses mengubah wajah ruang kendali ATCS. Fasilitas ini tidak sekadar berfungsi mengatur durasi lampu merah, tetapi telah berevolusi menjadi instrumen andalan pemerintah untuk menanamkan budaya tertib berlalu lintas.

Danang sangat berharap masyarakat tidak memandang teguran petugas ini sebagai bentuk mencari-cari kesalahan dari pemerintah.

“Harapannya masyarakat lebih aware terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain. ATCS ini sebagai media pengawasan bagi Dishub maupun Satlantas. Intinya mengajak masyarakat tertib berlalu lintas,” pungkasnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA