HUT ke-81 Jateng, Pertumbuhan Ekonomi Melesat, Angka Kemiskinan Terus Menyusut

waktu baca 4 menit
Jumat, 21 Agu 2026 15:19 0 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Memasuki usia ke-81 tahun, Provinsi Jawa Tengah justru menunjukkan daya tahan perekonomian yang luar biasa di tengah gempuran perlambatan ekonomi global, tekanan geopolitik, serta ketidakpastian iklim perdagangan internasional.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah sukses mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi hingga 5,80 persen secara kumulatif (c-to-c) sepanjang Semester I tahun 2026. Prestasi gemilang ini bahkan berhasil melampaui rata-rata pencapaian pertumbuhan ekonomi tingkat nasional.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen memimpin langsung orkestrasi kerja kolaboratif ini. Mereka sukses menggandeng pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, kalangan akademisi, hingga elemen masyarakat untuk bergerak bersama memacu laju pembangunan daerah.

Laju pertumbuhan ekonomi yang pesat ini tidak sekadar tampil sebagai deretan angka statistik semata. Perkembangan positif ini secara nyata menekan angka kemiskinan, membuka keran penyerapan tenaga kerja baru, serta mendongkrak taraf kesejahteraan masyarakat luas.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang membuktikan tren penurunan jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah secara konsisten. Pada periode Maret 2026, BPS mendata warga miskin tersisa 3,29 juta orang atau 9,21 persen dari total populasi. Pemerintah sukses mengentaskan 59.390 orang dari jerat kemiskinan jika membandingkannya dengan data September 2025, dan berkurang hingga 81.250 orang dari periode Maret 2025.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengonfirmasi tren penyusutan persentase kemiskinan ini. Ia merinci angka kemiskinan pada Maret 2026 yang menyentuh level 9,21 persen ini menandakan penurunan sebesar 0,18 persen dari angka 9,39 persen pada September 2025, dan turun 0,27 persen dari posisi 9,48 persen pada Maret 2025.

“Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional,” kata Ali dalam jumpa pers daring, Rabu,5 Agustus 2026.

Geliat investasi dan masifnya penyerapan tenaga kerja turut mengiringi lesatan pertumbuhan ekonomi provinsi ini. Pemprov Jateng membukukan capaian investasi sebesar Rp48,54 triliun sepanjang semester I tahun 2026. Aliran modal segar dari 55.989 unit proyek tersebut sukses menyerap hingga 213.217 orang tenaga kerja baru.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, membedah rincian realisasi semester I tersebut. Ia menyebut penanaman modal pada triwulan pertama (Januari–Maret) menyumbang Rp23,02 triliun, sementara triwulan kedua (April–Juni) melonjak hingga Rp25,53 triliun. Ia menegaskan realisasi investasi pada triwulan kedua sukses menanjak 10,88 persen dari capaian triwulan sebelumnya.

“Alhamdulillah, di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja, Jawa Tengah tetap bertambah dan bertumbuh 10,88 persen dari triwulan pertama,” ujarnya Rabu, 29 Juli 2026.

Sakina merinci lebih lanjut bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) mendominasi kinerja investasi semester I 2026 dengan nilai Rp25,92 triliun atau memegang porsi 53,40 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyokong sisa investasi dengan angka Rp22,62 triliun atau sekitar 46,60 persen.

Untuk melipatgandakan gairah investasi, Pemprov Jawa Tengah aktif mendorong jajaran pemerintah daerah agar mempercepat pengembangan berbagai kawasan industri baru. Langkah strategis ini bertujuan untuk mematangkan ketersediaan infrastruktur sekaligus menyajikan kemudahan operasional bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya.

Merespons rentetan pencapaian manis tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi kembali mengingatkan bahwa pemerintah tidak mungkin sanggup bekerja sendirian dalam membangun Jawa Tengah. Ia sangat mengandalkan kekuatan kolaborasi dari berbagai pihak lintas sektor.

“Maka kita punya semangat collaborative goverment (pemerintahan kolaboratif), karena kita tidak bisa sendiri-sendiri,” ucap beberapa waktu lalu.

Ia memandang sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan sebagai sebuah keharusan mutlak. Luthfi mencontohkan pelibatan aktif kalangan perguruan tinggi, baik kampus negeri maupun institusi pendidikan swasta, sebagai salah satu pilar penting pembangunan.

“Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super team dalam rangka melakukan pembangunan di wilayah kita. Provinsi (Jateng) dengan 35 kabupaten/kota dan segala aspek yang ada, (maka) collaborative government (pemerintahan kolaboratif) harus kita ciptakan,” ucap Luthfi.

Oleh karena itu, Luthfi merangkul seluruh elemen mulai dari para bupati dan wali kota, tokoh agama, pemuka masyarakat, pengusaha, insan akademis, warga sipil, hingga rekan media untuk menyatukan visi. Ia meyakini sinergi kokoh ini akan memastikan seluruh program pemerintah mendarat dengan tepat sasaran dan membawa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Luthfi juga menegaskan bahwa semangat gotong royong, rasa kebersamaan, dan kekompakan kerja tim sudah lama menjadi nilai luhur yang mengakar kuat di sanubari warga Jawa Tengah. Pemerintah akan terus mengamalkan tradisi baik ini, khususnya dalam upaya memacu pertumbuhan investasi dan ekonomi daerah.

Mempertegas komitmen tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, membeberkan bahwa perayaan Hari Jadi ke-81 provinsi tahun ini sengaja mengusung tema agung “Gumregut Nyawiji”. Pemerintah mengangkat tema istimewa ini dari filosofi bahasa Jawa yang merepresentasikan semangat pergerakan kolaborasi dan ikatan gotong royong.

“Semangatnya adalah bareng-bareng membangun Jawa Tengah. Ini selaras dengan arahan Pak Gubernur, bahwa kita harus berkolaborasi dengan semua pihak,” kata dia.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA