Disperindag Jateng Hadirkan Pasar Murah Semarak Merah Putih, Jadi Langkah Jaga Stabilitas Harga

waktu baca 4 menit
Senin, 24 Agu 2026 17:21 18 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Lonjakan harga kebutuhan pokok acap kali tampak sepele di atas kertas statistik. Namun, bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, kenaikan Rp1.000 saja pada beberapa komoditas sudah cukup mencekik anggaran belanja rumah tangga mereka.

Merespons realitas ekonomi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah nyata dengan menggelar program Pasar Murah Semarak Merah Putih bertema “Jaga Harga, Jaga Indonesia”. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah mengeksekusi langsung kegiatan pro-rakyat ini di halaman kantor mereka pada Jumat (21/8/2026).

Pemerintah merangkai kegiatan ini sebagai wujud perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadikannya tameng pelindung untuk menggaransi ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga bahan pokok.

Kepala Disperindag Provinsi Jawa Tengah, July Emmylia, menegaskan bahwa pasar murah ini tidak sekadar berfungsi sebagai lapak sembako murah. Ia memandang stabilitas harga pangan memiliki daya ungkit yang sangat krusial terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat luas.

“Ketika sembako itu harganya terjaga, maka stabilitas akan terus terjaga. Stabilitas terjaga, maka pembangunan bisa lancar dan pertumbuhan ekonomi juga terus terjaga,” kata Emmy.

Ia juga mengingatkan semua pihak agar tidak meremehkan kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, betapapun kecil nominalnya.

“Coba bayangkan, ketika harga sembako naik Rp1.000 saja, pasti sudah terasa. Maka yang harus kita jaga itu bukan hanya harganya, tetapi juga kualitas, ketersediaan dan keterjangkauannya,” ujarnya.

Melalui pasar murah ini, pemerintah berusaha meredam gejolak harga langsung di tingkat konsumen. Meski demikian, Emmy menyadari bahwa upaya menjinakkan inflasi tidak bisa tuntas hanya melalui acara seremonial satu atau dua hari. Pemerintah menuntut ketersediaan bahan pokok dan daya beli masyarakat harus terus menyala secara berkelanjutan.

Untuk menyiasati hal tersebut, Disperindag Jawa Tengah merangkul banyak pihak strategis. Mereka menggandeng Bulog, para distributor besar, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pelaku usaha mandiri, hingga UKM binaan untuk bergotong royong memasok stok pangan masyarakat.

Di arena pasar murah ini, para pedagang tidak melulu menjajakan sembako. Pengunjung bebas memborong ragam kebutuhan lain seperti ikan segar, sayur-mayur, minuman, penganan ringan, hingga produk pangan alternatif berkonsep organik. Masyarakat bahkan bisa menemukan beras dan tepung berbahan dasar singkong hasil inovasi kerja sama antarlini. Menariknya lagi, panitia turut menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk mendirikan bilik layanan potong rambut gratis bagi para pengunjung.

Menyoroti sinergi tersebut, Emmy memuji kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sebagai amunisi utama dalam menaklukkan harga pasar.

“Kepada seluruh pelaku usaha dan distributor yang telah hadir dan berpartisipasi, saya sampaikan terima kasih. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha inilah yang menjadi kunci keberhasilan pengendalian harga di lapangan,” katanya.

Secara garis besar, Disperindag Jawa Tengah menerjunkan program ini sebagai bentuk intervensi ekonomi. Pemerintah ingin memastikan kelompok masyarakat menengah ke bawah, yang paling rentan terpukul inflasi, tetap mampu mengakses bahan makanan dengan harga miring.

Menatap masa depan, Emmy berjanji akan terus menggulirkan program serupa, terlebih saat mendekati momentum hari besar keagamaan atau nasional yang kerap memicu lonjakan permintaan.

“Kegiatan pasar murah semacam ini akan terus kami upayakan keberlanjutannya sebagai salah satu instrumen pengendalian harga bahan pokok penting dan penguatan daya beli masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat pun membuncah menyambut gelaran ini. Salah seorang warga, Toetoet Hajoeningtiad, merasakan langsung manfaat besar dari pergelaran pasar dadakan tersebut. Ia menilai acara ini tidak hanya menyelamatkan kantong para pegawai di sekitar kawasan perkantoran, tetapi juga menjadi dewa penolong bagi warga umum.

“Sebagai masyarakat biasa, saya rasa ini sangat bermanfaat sekali. Pasti harganya lebih murah daripada harga di toko ataupun pasar. Akan sangat membantu,” katanya.

Toetoet juga memuji kelengkapan variasi barang yang pedagang tawarkan di lokasi acara.

“Masyarakat bisa memanfaatkan. Ada ikan, ada sayur, ada minuman, ada snack. Saya sendiri tadi juga beli mi,” ujarnya.

Ia membeberkan gambaran nyata mengenai selisih harga produk yang ia beli. Meskipun selisihnya terkesan tipis, akumulasi potongan harga ini jelas menyelamatkan keuangan keluarga saat memborong banyak barang sekaligus.

“Misalnya kalau di toko harganya Rp3.300, di sini bisa Rp3.000. Kalau di pasar mungkin ada yang Rp2.500, di sini bisa lebih murah lagi,” katanya.

Menutup perbincangannya, Toetoet sangat berharap pemerintah terus memperluas jangkauan pasar murah ini dan tidak sekadar menjadikannya acara musiman.

“Harapan saya ke depan masyarakat semakin bisa memanfaatkan pasar murah seperti ini. Semakin ramai dan semakin banyak masyarakat yang tertolong. Saya harap kegiatan ini terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA