
NALARMEDIA.COM – Mi instan menjadi salah satu makanan yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Selain praktis dan mudah dibuat, makanan ini juga relatif murah serta mampu memberikan rasa kenyang dalam waktu singkat.
Tak sedikit orang kemudian menambahkan berbagai bahan makanan sebagai pelengkap, mulai dari nasi, telur, kerupuk hingga aneka makanan olahan.
Namun, tidak semua kombinasi tersebut ideal jika terlalu sering dikonsumsi. Mi instan sendiri umumnya mengandung karbohidrat dan natrium yang cukup tinggi, sementara kandungan serat dan proteinnya relatif terbatas.
Karena itu, penambahan makanan yang juga tinggi kalori, lemak, karbohidrat, atau natrium dapat membuat komposisi makanan menjadi kurang seimbang.
Berikut enam makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi bersama mi instan:
Mi instan dan nasi putih merupakan kombinasi yang cukup populer. Perpaduan keduanya memang dapat membuat perut terasa lebih kenyang, tetapi keduanya sama-sama menjadi sumber karbohidrat.
Jika dikonsumsi dalam porsi besar dan terlalu sering, asupan energi dan karbohidrat bisa berlebihan, terutama jika tidak diimbangi dengan protein, sayuran, dan serat yang cukup.
Dalam jangka panjang, pola makan dengan asupan kalori berlebih dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan berbagai masalah metabolik.
Telur sebenarnya dapat menjadi pilihan pelengkap yang baik untuk mi instan karena mengandung protein. Namun, telur sebaiknya dimasak hingga matang sempurna.
Telur yang masih mentah atau setengah matang memiliki risiko kontaminasi bakteri, termasuk Salmonella. Infeksi bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare, demam, dan sakit perut.
Karena itu, jika ingin menambahkan telur ke dalam mi instan, pastikan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang.
Mengonsumsi cokelat setelah atau berdekatan dengan mi instan bukan berarti otomatis menimbulkan penyakit. Namun, kombinasi tersebut perlu diperhatikan apabila dilakukan terlalu sering.
Mi instan dan sebagian produk cokelat sama-sama dapat menyumbang kalori cukup tinggi. Jika konsumsi kalori melebihi kebutuhan tubuh secara terus-menerus, berat badan dapat meningkat.
Karena itu, sebaiknya perhatikan porsi dan frekuensi konsumsi, terutama jika cokelat yang dipilih mengandung tambahan gula cukup tinggi.
Bagi sebagian orang, makan mi instan tanpa kerupuk terasa kurang lengkap. Tekstur renyah kerupuk memang membuat makanan semakin nikmat.
Namun, kerupuk umumnya mengandung karbohidrat dan dapat menyumbang kalori serta lemak, tergantung jenis dan cara pengolahannya.
Jika ditambahkan dalam jumlah banyak ke dalam mi instan, total asupan energi dalam satu kali makan tentu menjadi lebih tinggi. Kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering.
Kornet dan keju juga sering dijadikan tambahan untuk membuat mi instan terasa lebih gurih dan mengenyangkan.
Meski demikian, kornet merupakan makanan olahan yang umumnya mengandung natrium cukup tinggi. Keju juga dapat menambah asupan lemak dan natrium, tergantung jenisnya.
Ketika keduanya ditambahkan ke mi instan, jumlah natrium, lemak, dan kalori dalam satu porsi makanan dapat meningkat. Karena itu, penggunaan topping sebaiknya tetap memperhatikan jumlah dan frekuensinya.
Sosis, bakso, dan nugget menjadi topping favorit karena mudah diperoleh dan praktis dimasak bersama mi instan.
Namun, sejumlah produk makanan olahan tersebut dapat mengandung natrium dan lemak yang cukup tinggi. Jika dikombinasikan dengan mi instan yang juga tinggi natrium, total asupan natrium dalam satu kali makan dapat meningkat.
Konsumsi makanan tinggi natrium secara berlebihan dan terus-menerus dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi pada sebagian orang.
Jika ingin membuat mi instan menjadi lebih bernutrisi, pilihan topping juga perlu diperhatikan.
Sayuran seperti sawi, wortel, bayam, atau tauge dapat ditambahkan untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral. Telur yang dimasak hingga matang juga dapat menjadi sumber protein.
Mi instan tetap boleh dikonsumsi sesekali. Namun, sebaiknya jangan menjadikannya sebagai menu utama terlalu sering dan hindari menambahkan terlalu banyak bahan yang tinggi natrium, lemak, maupun kalori.
Yang tak kalah penting adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan. Konsumsi makanan yang beragam dengan porsi seimbang, ditambah sayur dan buah, akan membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Jadi, bukan berarti semua makanan di atas sama sekali tidak boleh disantap bersama mi instan. Kuncinya adalah porsi, frekuensi, dan keseimbangan nutrisi dalam pola makan sehari-hari. (**)