Polemik buku Islam ala Prabowo.NALARMEDIA.COM – Kehadiran buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam mendadak memantik sorotan tajam dan viral di berbagai platform media sosial. Karya setebal 368 halaman tulisan Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas terbitan Atmosphere Publishing House ini sukses memicu polemik dari berbagai kalangan. Publik pun mempertanyakan esensi sebenarnya dari buku tersebut apakah menawarkan gagasan keislaman baru, sekadar merekam jejak kepemimpinan, atau hanya menjadi komoditas narasi politik penguasa.
Menepis judulnya yang memancing perdebatan, buku ini sebenarnya membedah isinya ke dalam tiga pilar pembahasan utama. Ketiga pilar tersebut mencakup nilai keislaman dan spiritualitas, upaya menjaga perdamaian dan keadilan sosial, serta prinsip pengabdian demi mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para penulis berusaha memotret rekam jejak kepedulian sosial Presiden Prabowo Subianto, sekaligus mengulas cara beliau menginternalisasikan nilai-nilai Islam ke dalam tindakan nyata dan kebijakan politik kebangsaannya.
Pemilihan judul “Islam ala Prabowo” memang sempat menerbitkan kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai potensi munculnya persepsi aliran atau mazhab agama baru. Merespons polemik ini, Ketua Umum Forum Komunikasi Kiai Kampung Indonesia (FK3I), KH Mas Muhammad Maftuh, segera meluruskan pandangan publik. Ia menegaskan bahwa buku tersebut murni mengulas dimensi amaliah dan karakter kepemimpinan sang presiden. Penulis hanya menjabarkan cara Prabowo menerjemahkan prinsip keadilan, toleransi, dan konsep rahmatan lil ‘alamin untuk menjaga keutuhan NKRI, bukan bermaksud menciptakan varian ajaran Islam yang baru.
Sayangnya, kontroversi buku ini tidak sekadar mandek pada perdebatan judul, tetapi terus merembet menyerang transparansi proses penyusunan naskah. Sejumlah tokoh nasional yang namanya ikut tercatut dalam daftar penulis perlahan mulai angkat bicara. Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGB Muhammad Zainul Majdi, secara terbuka memberikan klarifikasi. Ia membantah telah menulis atau mengirimkan naskah khusus untuk penerbitan buku tersebut. Kasus dugaan pencatutan nama ini sontak memantik kritik dari kalangan akademisi yang menyoroti keteledoran etika tim penerbit.
Hingga Senin (7/9/2026), diskursus panas mengenai buku Islam ala Prabowo ini masih membelah opini publik, baik di platform digital maupun ruang diskusi. Sebagian kalangan memberikan apresiasi dengan menilainya sebagai rekam jejak berharga terkait spiritualitas seorang kepala negara. Sementara itu, kelompok pengkritik terus mencecar kelemahan metode penyusunan naskah serta mewaspadai potensi komodifikasi agama demi melanggengkan legitimasi kekuasaan.