Harga Bitcoin Anjlok ke US$77.213, Lonjakan Minyak Tembus US$100 Jadi Pemicu Utama

waktu baca 3 menit
Jumat, 11 Sep 2026 14:42 15 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Nilai Bitcoin (BTC) kembali merosot pada Jumat (11/9/2026) siang, menyentuh angka US$77.213. Aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ini mencatatkan penurunan 0,68% selama 24 jam terakhir, membawanya ke level Rp1,36 miliar per koin.

Data perdagangan hingga pukul 13.14 WIB menunjukkan pergerakan Bitcoin berada di rentang Rp1,346 miliar sampai Rp1,380 miliar per koin. Saat ini, kapitalisasi pasar Bitcoin menyentuh Rp27,35 kuadriliun dengan total volume transaksi harian mencapai Rp535,32 miliar.

Meski secara harian harga Bitcoin merosot 4,51%, aset digital ini sebenarnya masih mencetak pertumbuhan positif sebesar 21,55% dalam kurun waktu 30 hari terakhir.

Tren penurunan Bitcoin beberapa hari terakhir ini mengikuti tekanan berat yang melanda pasar saham Amerika Serikat (AS). Tingginya tingkat inflasi dan lonjakan harga minyak dunia secara langsung memicu situasi ini.

Laporan Cointelegraph yang mengutip data TradingView memperlihatkan bahwa pasangan BTC/USD berpotensi mengalami penurunan sekitar 2% pada hari Jumat. Kondisi pasar kripto ini mengekor pelemahan yang sedang terjadi di bursa saham AS.

Eskalasi konflik di Timur Tengah turut memberi tekanan pada pasar dan mendorong harga minyak mentah melonjak tajam. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berhasil menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 21 Mei. Di sisi lain, harga minyak Brent melesat melewati US$105 per barel, mendekati titik tertingginya dalam 16 pekan terakhir.

Meroketnya harga minyak ini tentu saja memicu kembali kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang justru kembali naik, meskipun Departemen Keuangan AS sudah berupaya melakukan operasi pembelian kembali utang.

Pada hari Rabu sebelumnya, Departemen Keuangan AS sebenarnya telah menyerap kembali obligasi pemerintah senilai US$6 miliar. Kendati demikian, imbal hasil obligasi AS untuk tenor 30 tahun tetap melambung hingga 5,353%, mencetak rekor tertingginya sejak Juni 2007.

Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun juga merangkak naik menyentuh angka 4,924%, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.

Meningkatnya imbal hasil obligasi AS ini memberikan tekanan ganda bagi aset-aset berisiko, termasuk aset kripto. Para investor cenderung menarik dana mereka karena instrumen pendapatan tetap terlihat jauh lebih menarik ketika menawarkan imbal hasil yang tinggi.

Mengiringi merosotnya nilai Bitcoin, pergerakan berbagai aset kripto berkapitalisasi besar lainnya tampak masih sangat fluktuatif di pasar.

Ethereum (ETH) tampil menonjol sebagai salah satu aset yang berhasil menguat, mencatatkan kenaikan 0,30% ke level Rp43,50 juta per koin. Sebaliknya, BNB mengalami koreksi ringan 0,09% menjadi Rp12,61 juta per koin, dan Solana (SOL) turun 1,36% ke posisi Rp1,75 juta per koin.

Nasib serupa dialami XRP yang mencatatkan penurunan 2,14%, membawanya ke harga Rp23.790 per koin.

Beralih ke kelompok aset kripto berkapitalisasi menengah dan kecil, TRON (TRX) tampil sebagai satu-satunya koin yang menghijau dengan kenaikan 0,23% ke posisi Rp5.969 per koin.

Aset lainnya kompak memerah, seperti Dogecoin (DOGE) yang merosot 1,39% menjadi Rp1.481 per koin, Cardano (ADA) turun 1,55% ke angka Rp3.690 per koin, dan Chainlink (LINK) yang terkoreksi 1,94% ke level Rp203.675 per koin.

Sementara itu, Bitcoin Cash (BCH) harus menelan pil pahit dengan mencetak penurunan terdalam, anjlok drastis hingga 9,01% menjadi Rp4 juta per koin.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA