Pawai Ta’aruf MTQ Nasional 2026 Sukses Jadi Panggung Budaya Nusantara

waktu baca 4 menit
Sabtu, 12 Sep 2026 18:00 23 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Rangkaian Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 sukses menyulap sejumlah jalan protokol Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi panggung kolosal raksasa pada Sabtu (12/9/2026). Pergelaran ini memamerkan pesona keragaman budaya Indonesia secara langsung kepada masyarakat luas.

Aneka pakaian adat, ornamen tradisional, alunan musik daerah, hingga atraksi marching band memeriahkan hajatan nasional tersebut. Tercatat sedikitnya 46 defile dari berbagai provinsi, kabupaten/kota, serta instansi se-Jawa Tengah turut ambil bagian menyusuri rute sepanjang 2,5 kilometer yang membentang dari Balai Kota Semarang menuju Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Penampilan atraktif Korps Musik Taruna (Korsiktar) Universitas Maritim AMNI (Unimar AMNI) Semarang membuka iring-iringan pawai. Irama musik menghentak dan gerakan barisan yang rancak sukses memanaskan suasana sebelum barisan defile dari berbagai daerah unjuk gigi melintasi panggung utama.

Barisan defile secara bergantian memamerkan identitas kebudayaan daerah masing-masing. Peserta memadukan pakaian adat dan simbol budaya dari seluruh penjuru Nusantara dalam satu harmoni iring-iringan. Tidak ketinggalan, perwakilan daerah dan lembaga internal Jawa Tengah juga ikut unjuk pesona meramaikan pawai.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang tampil mencuri perhatian dengan mengikutsertakan perwakilan tokoh dari berbagai agama. Kehadiran defile lintas iman ini menegaskan pesan bahwa toleransi dan keberagaman bisa berjalan beriringan menyukseskan perayaan MTQ Nasional di Jawa Tengah.

Sepanjang rute pawai, lautan warga tampak memadati pinggir jalan dengan antusiasme tinggi. Masyarakat bersorak menyambut iring-iringan, merekam momen defile menggunakan gawai, dan melambaikan tangan saat rombongan kafilah melintas.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyambut langsung kedatangan para peserta di garis akhir. Taj Yasin melontarkan apresiasi tinggi atas semangat seluruh kontingen provinsi dan kabupaten/kota yang menyukseskan Pawai Ta’aruf ini.

Ia secara khusus berterima kasih kepada 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang telah mengirimkan delegasi defile mereka. Sang Wagub menilai Pawai Ta’aruf berperan penting sebagai ruang ekspresi untuk memamerkan kekayaan adat istiadat, sekaligus merajut tali persaudaraan di tengah keberagaman peserta MTQ Nasional.

“Kita pengin menampilkan kebudayaan-kebudayaan dari berbagai daerah, untuk bersatu padu membangun Indonesia ini dengan lewat MTQ Nasional,” ujarnya.

Tokoh yang akrab dengan sapaan Gus Yasin ini menambahkan bahwa kemeriahan pawai membuktikan fungsi MTQ sebagai wadah kebersamaan yang meleburkan sekat-sekat perbedaan suku, ras, maupun agama.

“Ini kita tahu bahwa ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama, tidak melihat suku, ras, agama, semuanya kumpul, kita bersatu,” katanya.

Tuan rumah Jawa Tengah sendiri mengusung tema defile “Gumreget Nyawiji” untuk merefleksikan semangat persatuan dan kesatuan bangsa tersebut.

Dari sudut pandang peserta, Pawai Ta’aruf bermakna lebih dari sekadar arak-arakan menuju lokasi lomba. Mereka menjadikan momen istimewa ini sebagai ajang promosi untuk mengenalkan pesona budaya daerah asal mereka kepada publik luas.

Kafilah Papua Tengah menjadi salah satu delegasi yang mencuri perhatian. Rombongan ini memboyong sekitar 100 anggota ke Semarang. Khusus untuk agenda Pawai Ta’aruf, panitia daerah menerjunkan 28 peserta yang tampil totalitas mengenakan pakaian adat lengkap dengan ornamen khas bumi cenderawasih.

Ketua Kafilah Papua Tengah, Wahyu Budi Santoso, membeberkan bahwa timnya memang sengaja memamerkan busana adat daerah, termasuk mengusung simbol burung cenderawasih sebagai identitas kebanggaan masyarakat Papua.

“Ya, dalam kegiatan pawai ta’aruf kami menampilkan pakaian adat-adat di Papua Tengah,” katanya.

Anggota kafilah Papua Tengah, Emi Titin Indrawati, menerangkan makna di balik pernak-pernik yang timnya kenakan. Pakaian dan perlengkapan tersebut merepresentasikan kekayaan budaya Kabupaten Mimika serta gabungan tradisi suku-suku pedalaman Papua Tengah.

“Ini pakaian baju adat Kamoro Amungme dari Papua Tengah, dan Damal dan sebagainya, tujuh suku di sana,” ujarnya.

Sembari berjalan, Emi memamerkan deretan atribut budaya andalan, mulai dari alat musik tifa, topi berornamen khas Papua, rok rumbai, hingga tongkat komando tradisional.

Menyikapi sambutan tuan rumah, Emi mengaku sangat terkesan melihat keramahan dan profesionalitas warga Jawa Tengah saat menyapa para duta daerah.

“Menurut saya ini sudah terprepare dengan baik dan memberikan kesan yang baik buat kita dari luar daerah tentunya. Alhamdulillah meriah,” katanya.

Antusiasme yang sama memancar dari raut wajah anggota Kafilah Kepulauan Riau (Kepri). Kontingen ini tampil percaya diri mengusung tema Tugu Bahasa untuk merepresentasikan simbol kebudayaan dan tonggak sejarah lahirnya bahasa pemersatu bangsa.

Juru bicara Kafilah Kepri, Sofyan Sulaiman, mengutarakan bahwa replika Tugu Bahasa tersebut memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan bahasa Melayu, sang akar peradaban bahasa Indonesia masa kini.

“Kita dalam pawai karnaval ini menunjukkan Tugu Bahasa. Bahasa sebagai salah satu budaya nasional,” katanya.

Kafilah Kepri mengerahkan total 121 delegasi untuk bertarung di ajang MTQ Nasional XXXI. Mereka memastikan partisipasi penuh dengan mendelegasikan perwakilan pada seluruh cabang dan golongan musabaqah.

Seperti Emi, Sofyan turut melontarkan pujian atas sambutan hangat warga Jawa Tengah yang tumpah ruah memadati pinggir jalan raya demi menyaksikan arak-arakan budaya tersebut.

Ia meyakini kemeriahan Pawai Ta’aruf ini sukses memberikan edukasi visual bagi warga lokal untuk melihat langsung kekayaan peradaban dari berbagai penjuru bumi Nusantara.

“Saya pikir masyarakat Jawa Tengah dengan event MTQ nasional ini sangat memberikan respon dan turut bergembira melihat setiap karnaval yang berasal dari setiap provinsi.” katanya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA