Tim verifikasi lapangan DLH Kota Semarang saat meninjau lingkungan peserta lomba kampung hijau, baru-baru ini. NALARMEDIA.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang terus mengambil langkah nyata untuk menumbuhkan kepedulian warga terhadap kelestarian ekosistem. Pemerintah kota secara resmi menggelar ajang Lomba Kampung Hijau tahun 2026. Kompetisi ini sukses menarik minat 130 kelurahan dari total 177 kelurahan di seluruh penjuru Kota Semarang. Pemerintah mengajak warga untuk turun tangan langsung menata lingkungan yang terbatas, mulai dari lingkup terkecil di tingkat RT maupun RW.
Sub Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang, Indriana Puspita Widyasari, memaparkan tujuan utama program ini. Ia menjelaskan bahwa perlombaan ini bertujuan untuk memantik kesadaran masyarakat agar mau menyulap lingkungan sekitar menjadi kawasan yang bersih, hijau, dan terkelola dengan baik.
“Jadi harapannya, lingkungan sekitar masyarakat dengan lahan yang terbatas bisa dimanfaatkan warga berbagai aktivitas. Mulai dari penghijauan, budidaya ikan, ternak dan mengelola sampah organik maupun anorganik ke bank sampah sekaligus kegiatan ekonominya juga ikut hidup,” ujarnya pada Selasa (4/8/2026).
Indriana menceritakan bahwa DLH mencetuskan perlombaan ini untuk merespons pesatnya pertumbuhan kota, lonjakan jumlah penduduk, serta semakin menyusutnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Semarang belakangan ini.
“Belum lagi tantangan yang lain, penurunan kualitas lingkungan seperti kebersihan, kenyamanan tempat tinggal dan masih sering terjadinya rob dan banjir di semarang utara. Sehingga kami mencetuskan lomba kampung hijau ini agar timbul kesadaran warga untuk memiliki lahan yang dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas warga yang tertata dan bersih,” katanya.
Panitia memulai tahapan lomba dengan menggelar sosialisasi langsung ke tingkat kelurahan. Mereka memaparkan secara rinci rencana dan konsep kegiatan kepada para perwakilan warga setempat.

“Namun, ternyata disambut antusias pihak kelurahan, dari 177 kelurahan yang kita undang, ternyata ada 130 kelurahan ikut berpartisipasi dengan mengirimkan perwakilannya. “Kami tidak menyangka kalau antusias warga tinggi, meski dengan waktu kurang lebih satu bulan sejak sosialisasi lomba tersebut diadakam,” paparnya.
Tim penilai kemudian menyaring ketat seluruh peserta lomba melalui tahapan pengumpulan materi visual untuk mencari kandidat terbaik.
“Setelah dilakukan seleksi administrasi lolos 13 video dari total 130 video maju untuk tahap selanjutnya yaitu verifikasi lapangan. Dari 13 lokasi terbaik ini, akan dipilih pemenangnya, yang akan diumumkan dalam waktu dekat ini,” lanjutnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang turun langsung meninjau 13 titik lokasi yang berhasil menembus tahap verifikasi lapangan. Beberapa wilayah sukses menampilkan inovasi yang sangat mengesankan. Warga Kelurahan Gebangsari di Kecamatan Genuk, misalnya, memamerkan sistem pengelolaan sampah terpadu yang mencakup pemilahan sampah, komposting, pembuatan ecoenzyme, hingga budidaya maggot dan cacing.
Sementara itu, Kelurahan Srondol Wetan di Kecamatan Banyumanik menonjolkan potensi kawasan hutan jati. Warga setempat secara kreatif memanfaatkan mesin pencacah daun untuk mengolah limbah dedaunan menjadi pupuk kompos dan pakan ternak berkualitas.
Inovasi yang tak kalah menarik juga muncul dari peserta lain yang sukses menghidupkan roda perekonomian warga lokal berkat penataan lingkungan yang rapi dan bersih.
“Selanjutnya, di Pindrikan Kidul, menariknya di sini warga memanfaatkan lahan sekitar dengan setiap satu bulan sekali dibuka pasar pinggir kali yang disebut SARGIRLI yang menampilkan sejumlah produk umkm. Jadi di lokasi tersebut, menjadi pusat kegiatan ekonomi warga,” pungkasnya.