Dari Semarang untuk Indonesia, KH Sholeh Darat Makin Dekat Menjadi Pahlawan Nasional

waktu baca 4 menit
Sabtu, 7 Nov 2026 14:00 1 Rudi Sidarta

NALARMEDIA.COM — Nama KH Sholeh Darat kembali menjadi perhatian dalam perjalanan pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Ulama besar asal Semarang tersebut dikenal memiliki peran penting dalam perkembangan pemikiran Islam di Jawa dan hubungan keilmuan dengan sejumlah tokoh yang kemudian berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Di antara tokoh yang dikenal memiliki hubungan keilmuan dengan KH Sholeh Darat adalah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ia juga memiliki hubungan intelektual dengan R.A. Kartini, terutama berkaitan dengan pemahaman terhadap ajaran Al-Qur’an.

Ketiga tokoh tersebut telah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Sementara itu, pengusulan KH Sholeh Darat kini dilaporkan telah memasuki tahapan pertimbangan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Penasihat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Pelestarian Sejarah dan Pengembangan Budaya Kemaritiman, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., mengatakan proses pengusulan tersebut telah melewati serangkaian penelitian dan pengkajian di tingkat daerah hingga pusat.

Singgih yang juga menjadi Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional menyebut perkembangan tersebut sebagai tahapan penting.

“Mengenai perkembangan terbaru proses pengusulan tersebut tinggal selangkah lagi KH Sholeh Darat ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional,” ujar Singgih di Jakarta, Jumat (6/11).

Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional berawal dari aspirasi berbagai kelompok masyarakat Semarang. Mereka menginginkan jasa dan kontribusi ulama tersebut mendapat pengakuan dari negara.

Aspirasi itu kemudian disampaikan kepada Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Pemerintah Kota Semarang menindaklanjutinya dengan membentuk tim ahli untuk menyusun naskah akademik sebagai dasar pengusulan.

Dalam prosesnya, tim penyusun berupaya memastikan bahwa pengajuan tersebut memiliki landasan sejarah yang kuat. Pengusulan tidak hanya didasarkan pada besarnya penghormatan masyarakat terhadap KH Sholeh Darat, tetapi juga melalui penelitian dan pengujian akademik.

Tim melibatkan sejumlah sejarawan dan peneliti dari berbagai bidang, mulai dari sejarah Islam, sejarah Jawa, sejarah maritim, sejarah Kota Semarang, hingga kajian pemikiran dan karya-karya KH Sholeh Darat.

Penelitian juga diperkuat dengan keterlibatan Dr. Suryadi, pakar sejarah Islam yang berdomisili di Belanda. Ia turut membantu penelusuran sumber-sumber sejarah, khususnya dokumen dan arsip yang tersimpan di luar negeri.

Keseriusan penyusunan naskah akademik menjadi salah satu aspek yang disoroti Singgih. Menurutnya, penelitian dilakukan dengan cakupan sumber yang luas dan melibatkan para ahli yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.

Hasil penelitian tidak hanya dikembangkan melalui studi pustaka, tetapi juga dibahas dalam seminar nasional dan internasional. Forum tersebut menjadi ruang pengujian terhadap argumentasi sejarah sekaligus menghimpun masukan untuk menyempurnakan naskah.

Singgih menilai kedalaman penelitian dan proses pengujian ilmiah yang dilakukan membuat naskah akademik pengusulan KH Sholeh Darat memiliki bobot yang dapat dibandingkan dengan disertasi.

“Pengusulan KH Sholeh Darat tidak hanya bertumpu pada ketokohan dan penghormatan masyarakat, tetapi juga didukung oleh argumentasi historis yang telah dikaji secara mendalam,” jelasnya.

Menurut Singgih, pendekatan akademik tersebut penting agar pengusulan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan historis.

Peran KH Sholeh Darat dalam sejarah tidak hanya berkaitan dengan hubungan keilmuannya dengan sejumlah tokoh besar. Ia juga dikenal melalui karya-karya keislaman berbahasa Jawa yang membantu masyarakat memahami ajaran agama.

Penggunaan bahasa Jawa dalam karya-karyanya memiliki arti penting pada masa kolonial. Pengetahuan keagamaan dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga jangkauan pembelajaran tidak terbatas pada kalangan tertentu.

Pengaruh pemikiran dan karya-karya tersebut menjadi bagian dari argumentasi historis dalam pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional.

Meski hubungan keilmuan dengan tokoh-tokoh yang telah memperoleh gelar Pahlawan Nasional menjadi salah satu aspek penting, pemberian gelar tetap harus mempertimbangkan keseluruhan jasa, kontribusi, dan persyaratan yang ditetapkan negara.

Singgih menjelaskan, pengusulan KH Sholeh Darat telah melalui tahapan penilaian Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kota Semarang, tingkat Provinsi Jawa Tengah, serta pengkajian oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).

Saat ini, usulan tersebut dilaporkan telah memasuki tahap pertimbangan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Keputusan akhir pemberian gelar Pahlawan Nasional berada di tangan Presiden Republik Indonesia.

Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menentukan 18 tokoh yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2026 pada Jumat (6/11).

Singgih berharap KH Sholeh Darat menjadi salah satu dari 18 tokoh tersebut.

Harapan masyarakat Semarang kini tertuju pada keputusan pemerintah. Setelah melalui proses panjang, mulai dari aspirasi masyarakat, penelitian sejarah, penyusunan naskah akademik, hingga pengkajian di tingkat pusat, pengusulan KH Sholeh Darat memasuki fase yang dinantikan banyak pihak.(**)

LAINNYA