Warga Purworejo mendapatkan perawatan medis akibat keracunan makanan program MBGNALARMEDIA.COM – Sebanyak 718 warga di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengalami gejala keracunan massal usai menyantap paket hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Persebaran korban mencakup delapan desa, yakni Guntur, Nglaris, Sidomukti, Ngasinan, Sendangsari, Limbangan, Kaliboto, dan Legetan, dengan tiga orang di antaranya harus menjalani rawat inap intensif di rumah sakit.
Petugas kesehatan setempat masih terus memperbarui data korban di lapangan sehingga total warga terdampak berpeluang bertambah. Pemetaan sementara mencatat 189 warga berasal dari Desa Guntur, 95 warga Nglaris, 110 warga Sidomukti, 119 warga Ngasinan, 110 warga Sendangsari, 24 warga Limbangan, 35 warga Kaliboto, serta 36 warga Legetan. Menyikapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo memastikan kas daerah menanggung penuh seluruh biaya pengobatan warga yang terdampak.
Petaka berawal saat pihak pengelola menyalurkan paket makanan MBG berisi nasi, olahan ayam bumbu, tahu kuah kuning, dan sayur kol bumbu kuning pada Kamis (17/9/2026). Memasuki pukul 20.00 WIB, gelombang keluhan mulai bermunculan dengan indikasi rasa mulas hebat, sakit perut, hingga diare parah. Warga Desa Guntur, Sarjito, mengungkapkan bahwa anaknya mengalami diare pada malam hari meski hanya mencicipi sedikit daging ayam dari kotak makanan tersebut.
Selain lonjakan korban yang mencapai ratusan orang, warga mengecam langkah lamban pengelola dapur dalam memberikan pertolongan pertama. Petugas MBG justru hanya menitipkan persediaan bubuk oralit ke posyandu tanpa memberikan penanganan medis langsung kepada warga yang terbaring kesakitan.
Ketua RW V Dusun Kalipancer, Desa Guntur, Tri Indrayatno, menilai pola distribusi obat tersebut sangat tidak manusiawi serta menyulitkan warga yang sedang lemah fisik untuk memperoleh pertolongan cepat.
“Sore waktu Maghrib, pengelola dapur datang membawa oralit. Itu pun tidak diberikan langsung kepada warga, tapi hanya didrop di Posyandu dan warga disuruh mengambil,” ujar Tri, dikutip dari Koranjuri, Jumat (25/9/2026).
Masyarakat mendesak pemerintah mengevaluasi total rantai pasok dan standar higienitas program MBG di wilayah Purworejo. Sarjito bahkan menuntut otoritas berwenang segera menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi hidangan bermasalah tersebut.
“Tuntutan kami adalah tutup SPPG-nya,” kata Sarjito.