Pemkot Semarang Fokuskan Dana RT Rp25 Juta untuk Program Lingkungan dan Ketahanan Pangan

waktu baca 3 menit
Kamis, 21 Mei 2026 18:19 12 Fajrul Amien

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengambil langkah strategis dengan mengalokasikan dana bantuan sebesar Rp25 juta untuk setiap RT pada tahun 2026. Anggaran ini secara khusus diarahkan untuk mendongkrak program ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di akar rumput. Kebijakan pro lingkungan ini diumumkan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam acara pembinaan kader PKK di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama, pada Rabu (20/5/2026).

Pada kesempatan tersebut, Agustina menggarisbawahi bahwa isu lingkungan dan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang untuk beberapa tahun mendatang. Oleh sebab itu, ia berharap bantuan dana RT tersebut dapat diserap secara optimal melalui berbagai kegiatan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga.

Lebih lanjut, gerakan pemberdayaan melalui PKK akan mengerucut pada tiga program utama. Ketiga program tersebut meliputi upaya pemberantasan jentik nyamuk, penanaman tanaman obat keluarga (Toga), hingga inovasi tata kelola sampah melalui pendirian bank sampah di setiap RW.

“Tema pembangunan Kota Semarang tahun ini adalah ketahanan pangan dan lingkungan hidup, sehingga penggunaan dana Rp25 juta diarahkan mendukung program tersebut,” ujar Agustina.

Terkait ketahanan pangan, langkah awal bisa diterapkan dengan cara yang sangat sederhana. Warga didorong untuk memaksimalkan fungsi lahan kosong maupun pekarangan rumah sebagai area tanam sayur-mayur dan bumbu dapur harian. Strategi ini tidak hanya ampuh untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitar.

Di samping urusan pangan, Pemkot Semarang juga menargetkan agar setiap RT memiliki koleksi tanaman Toga. Agustina memandang bahwa Toga memegang peranan penting untuk membangkitkan kembali kearifan lokal berupa pengobatan tradisional, yang sangat berguna sebagai pertolongan pertama saat menghadapi gangguan kesehatan ringan.

Sebagai contoh, ia menyebutkan khasiat campuran beras dan kencur yang sudah menjadi andalan masyarakat sejak dulu untuk mengobati benjol atau memar. Pengetahuan seputar pengobatan herbal seperti ini dinilai sangat berharga dan patut untuk terus diwariskan kepada generasi muda.

Bergeser ke sektor kelestarian alam, tata kelola sampah yang berbasis partisipasi warga turut menjadi sorotan. Pemkot mengimbau agar seluruh RW di Kota Semarang segera mengaktifkan bank sampah, baik dengan mengoptimalkan infrastruktur yang sudah tersedia maupun dengan membangun titik pengelolaan yang baru.

Upaya ini sejalan dengan posisi Kota Semarang yang kini tengah gencar merintis berbagai program pengolahan sampah menjadi sumber energi terbarukan, termasuk konversi limbah menjadi tenaga listrik dan bahan bakar alternatif.

Sebagai informasi tambahan, dukungan finansial dari pemerintah tidak berhenti pada suntikan dana program Rp25 juta saja. Pemkot Semarang juga telah menyiapkan anggaran operasional rutin, di mana setiap RT mendapat alokasi sebesar Rp3 juta per tahun, sementara setiap RW menerima Rp3,5 juta per tahun untuk menyokong kelancaran berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Untuk memaksimalkan potensi yang ada, rencana pelatihan pengolahan sampah agar memiliki nilai jual ekonomis juga telah disiapkan bagi warga. Bahkan, sebagai bentuk kampanye kreatif peduli lingkungan, pemerintah akan menggelar ajang lomba fashion berbahan dasar barang daur ulang yang akan menggandeng berbagai komunitas masyarakat luas.

Melalui sinergi program-program tersebut, Pemkot Semarang menaruh harapan besar agar kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan semakin meningkat, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang berporos pada manajemen persampahan.

LAINNYA