Perpanjang Festival Kota Lama, Wali Kota Agustina Ajak Kafilah MTQ Nasional Jelajahi Sejarah Semarang

waktu baca 3 menit
Senin, 7 Sep 2026 14:29 14 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menginstruksikan panitia untuk memperpanjang durasi Festival Kota Lama (FKL) 2026 hingga menjelang penutupan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-31. Pemerintah Kota Semarang mengambil inisiatif ini guna memberikan keleluasaan waktu bagi para kafilah dan tamu undangan untuk menikmati pesona Kota Lama di sela-sela padatnya agenda perlombaan.

Agustina menyampaikan kebijakan strategis tersebut saat meresmikan pembukaan Festival Kota Lama XV 2026. Ia menilai jadwal MTQ Nasional yang bergulir pada 11–20 September sangat padat, sehingga pemerintah perlu membuka ruang dan kesempatan bagi para kafilah untuk menyelami eksotisme Kota Lama beserta ragam kegiatan yang memeriahkannya.

“Saya meminta Festival Kota Lama diperpanjang sampai para peserta MTQ selesai menjalankan seluruh rangkaiannya. Jadwal MTQ ini rapat sekali. Kapan mereka bisa jalan-jalan melihat Festival Kota Lama?” ujar Agustina.

Menindaklanjuti permintaan tersebut, panitia penyelenggara langsung menyusun berbagai agenda tambahan untuk memperpanjang napas kemeriahan Festival Kota Lama. Penyelenggara merancang jadwal penutupan festival agar berlangsung nyaris bersamaan dengan momen penutupan MTQ Nasional XXXI.

Agustina memandang kesempatan mengeksplorasi Kota Lama ini sangat selaras dengan nilai historis kawasan tersebut yang sejak era kolonial berfungsi sebagai titik perjumpaan lintas budaya. Walaupun berbagai bentuk aktivitas di dalamnya terus berevolusi mengikuti tuntutan zaman, kawasan ini tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai wadah masyarakat untuk berinteraksi, merayakan seni dan budaya, serta menggerakkan roda ekonomi.

“Sejak dulu Kota Lama ini diciptakan memang untuk sebuah perjumpaan. Perubahan-perubahan yang terjadi hanya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, tetapi keinginan, rasa, dan segala hal yang berhubungan dengan manusia di Kota Lama ini tidak berubah,” tuturnya.

Hadirnya Festival Kota Lama menjelma menjadi instrumen ampuh untuk menghidupkan kembali ruang interaksi sosial tersebut. Beragam elemen masyarakat, mulai dari komunitas penggiat seni, pelaku usaha kreatif, hingga wisatawan lokal dan mancanegara, saling membaur merayakan berbagai pementasan seni, pameran budaya, dan bazar kuliner.

Sebagai wujud dedikasi warga, Agustina membagikan kisah inspiratif tentang kelompok Wayang Orang yang sempat mematangkan rencana tampil di Rotterdam, Belanda. Kendati otoritas terkait pada akhirnya tidak menerbitkan izin keberangkatan, kelompok seniman tersebut menolak menyerah dan tetap menggelar pementasan memukau sesuai jadwal yang telah mereka susun.

“Tidak karu-karuan perasaan saya. Tetapi yang membahagiakan adalah mereka dengan semangat gegap gembira tetap bermain sesuai dengan schedule,” katanya.

Agustina menilai pengalaman emosional tersebut membuktikan betapa tingginya rasa kepemilikan masyarakat dalam menjaga muruah dan kelestarian kebudayaan Kota Semarang.

“Itulah gambaran warga Kota Semarang yang gotong royong bersatu dan kemudian merasa bahwa ini adalah milik kita. Sense of belonging-nya sangat luar biasa,” ujar Agustina.

Semangat gotong royong itulah yang memancarkan energi positif dalam tema “Unity in Diversity” pada Festival Kota Lama XV 2026 ini. Agustina meyakini bahwa keberagaman merupakan urat nadi kehidupan Kota Semarang yang terus tumbuh subur berkat perjumpaan silang tradisi, masyarakat, dan kebudayaan masa silam.

Selama festival berlangsung, pengunjung bisa menikmati deretan kegiatan yang sukses menjembatani warisan budaya klasik dengan gaya hidup modern. Panitia menyelenggarakan pelatihan merangkai janur yang merangkul anak-anak untuk praktik langsung merakit ketupat dan ornamen hiasan pengantin, sembari menyelami kedalaman makna filosofis di balik tradisi leluhur tersebut.

Agustina menaruh harapan besar agar panitia terus memperluas ruang berekspresi bagi generasi muda. Ia mengingatkan bahwa fondasi keberlangsungan Festival Kota Lama sangat bergantung pada kehadiran generasi penerus yang mengenal, mengapresiasi, dan bangga mewarisi kekayaan budaya di kawasan bersejarah tersebut.

“Anak-anak harus kita gandeng untuk bisa melihat dengan saksama, supaya ketika kita meninggalkan aktivitas dunia, Festival Kota Lama ini akan terus lestari dan ada,” tutur Agustina.

Rangkaian Festival Kota Lama XV 2026 ini akan terus berdetak hingga menyentuh hari penutupan MTQ Nasional XXXI dengan menyuguhkan aneka parade seni, pertunjukan budaya, bazar kuliner, dan pameran komunitas. Melalui kebijakan perpanjangan durasi ini, pemerintah berharap para kafilah dan delegasi MTQ dapat membawa pulang kenangan indah tentang pesona Kota Semarang.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA