Kemeriahan tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Jepara 2026. NALARMEDIA.COM – Percikan bunga api menghiasi pekatnya langit malam saat warga saling memukulkan obor dalam puncak perayaan Tradisi Perang Obor. Momen magis ini berlangsung meriah di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Senin malam (25/5/2026).
Masyarakat setempat menggelar agenda tahunan ini sebagai bentuk doa agar desa mereka selalu mendapat limpahan berkah dan harapan baik. Ribuan warga lokal hingga wisatawan tampak memadati lokasi untuk menyaksikan langsung ritual bersejarah tersebut. Tokoh penting seperti Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, hingga Bupati Jepara Witiarso Utomo turut hadir memeriahkan acara.
Secara turun-temurun, warga melaksanakan Perang Obor sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi sekaligus ritual penolak bala. Masyarakat rutin menyelenggarakan ritual ini setiap Senin Pahing malam Selasa Pon, tepat setelah masa panen berakhir. Tradisi yang kabarnya sudah eksis sejak abad ke-16 ini memiliki ikatan kuat dengan legenda lokal mengenai sosok Ki Gemblong dan Kyai Babadan.
Menurut cerita rakyat, kisah bermula ketika Ki Gemblong mengabaikan tugasnya menjaga ternak demi mencari ikan, sehingga hewan peliharaan milik Kyai Babadan jatuh sakit. Kyai Babadan yang marah lantas memukul Ki Gemblong menggunakan obor menyala. Namun secara ajaib, percikan api obor tersebut justru menyembuhkan hewan-hewan yang sakit. Peristiwa inilah yang memicu keyakinan masyarakat bahwa api obor mampu menjadi simbol keselamatan dan penolak bala bagi desa mereka.

Menanggapi kemeriahan acara, Wagub Jateng Taj Yasin menegaskan bahwa Perang Obor tidak sekadar menyuguhkan atraksi visual. Ia memandang tradisi ini menyimpan pesan moral yang mendalam, sekaligus memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan daerah.
“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat pada hakikatnya memanjatkan doa kepada Tuhan melalui ritual ini. Mereka berharap sang Pencipta menjauhkan desa dari segala musibah dan selalu memberikan perlindungan.
“Ini bentuk doa agar masyarakat diangkat dari bala dan diberi keselamatan,” lanjutnya.
Taj Yasin meyakini gelaran budaya semacam ini mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal dan mempromosikan identitas autentik Jepara ke panggung yang lebih luas. Bukti nyata terlihat dari antusiasme penonton yang membeludak sejak sore hari. Pengunjung dari berbagai daerah rela datang jauh-jauh sekadar untuk melihat langsung keunikan tradisi asli Jepara ini.
Jatus, seorang pengunjung asal Batealit, Jepara, mengaku sengaja memboyong keluarganya untuk menikmati malam kemeriahan tersebut.
“Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.
Ia menceritakan bagaimana masyarakat tetap antusias dan enggan beranjak meninggalkan lokasi acara meski hujan sempat mengguyur desa. Jatus berharap kemeriahan tradisi ini terus meningkat setiap tahunnya dan masyarakat senantiasa melestarikannya sebagai identitas budaya kebanggaan Jepara.
Bagi warga Desa Tegalsambi, Perang Obor telah menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Hal ini tergambar dari kisah Petruk, salah satu pelaku tradisi yang rutin turun langsung berpartisipasi meramaikan Perang Obor sejak tahun 2000, atau selama kurun waktu 26 tahun terakhir.
“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya.
Dedikasinya tidak berhenti pada dirinya sendiri, karena ia telah mewariskan semangat pelestarian tradisi tersebut kepada sang buah hati sebagai generasi penerus.
“Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.
Petruk menyimpan harapan besar agar Perang Obor tetap eksis melintasi zaman. Ia ingin tradisi ini semakin terkenal luas tanpa sedikit pun melunturkan nilai-nilai budaya warisan leluhur.
Sebagai catatan penting, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah resmi menetapkan Tradisi Perang Obor Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2020 silam. (*)