Wali Kota Agustina Wilujeng Gelar Festival Seni Budaya Meriahkan MTQ Nasional

waktu baca 4 menit
Jumat, 11 Sep 2026 13:10 20 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyatakan kesiapan penuh menyambut pergelaran akbar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 12 hingga 19 September mendatang. Menyandang status tuan rumah, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyiapkan serangkaian festival seni, budaya, literasi, hingga panggung ekspresi Islami guna memanjakan para kafilah dan tamu dari seluruh penjuru Nusantara.

Agustina menilai ajang MTQ Nasional ini membuka peluang emas bagi Kota Semarang untuk memamerkan kekayaan sejarah dan kebudayaan lokal kepada publik luas. Oleh karena itu, panitia sengaja merancang berbagai atraksi tradisi lokal dan pentas seni Islami sebagai kegiatan pendamping (side event) selama kejuaraan berlangsung.

“MTQ Nasional bukan hanya tentang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Ini adalah momentum perjumpaan. Kita mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya lokal. Karena itu, kami ingin para kafilah dan tamu yang datang tidak hanya mengikuti MTQ, tetapi juga merasakan keramahan dan mengenal karakter Kota Semarang,” ujar Agustina usai menghadiri Residensi Silang Rimbaud, Kamis (10/9).

Sebagai daya tarik utama, Pemkot Semarang menggelar agenda Nostalgia Mini Dugderan di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman mulai 13 hingga 18 September 2026. Panitia menyulap kawasan tersebut menjadi pasar rakyat bernuansa perayaan menjelang Ramadan. Pengunjung bisa berburu aneka kuliner legendaris seperti kue putu dan martabak, sekaligus bernostalgia dengan mainan tradisional anak-anak seperti gerabah dan kapal othok-othok.

Kemeriahan ini akan memuncak pada Kirab Budaya Mini Dugderan yang bergulir Jumat (18/9). Pemuka agama akan mengawali prosesi dengan membacakan Suhuf Halaqah dan menabuh bedug, lalu membagikan ribuan roti Ganjel Rel kepada warga masyarakat. Parade budaya ini memancarkan pesona inklusivitas melalui penampilan barisan multikultural, yang merangkul komunitas Pecinan, barisan Koja, atraksi Barongsai Semarangan, hingga keterlibatan tokoh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

“Kota Semarang punya Dugderan, punya kekayaan seni dan budaya yang sangat beragam. Ini yang ingin kita tampilkan. Kita menyambut saudara-saudara dari seluruh Indonesia dengan budaya kita, tetapi tetap dalam semangat persaudaraan dan nilai-nilai keislaman,” jelasnya.

Selain menyuguhkan tradisi Dugderan, panitia turut menggelar deretan side event yang mewadahi ragam kreasi seni, literasi, dan kreativitas Islami. Publik bisa menikmati keindahan Pameran Kaligrafi Internasional, Festival Kaligrafi, hingga menyaksikan keseruan Lomba Cerpen, Lomba Mewarnai, dan Lomba Bacaan Surat Pendek. Pemkot juga menyiapkan pentas musik anak-anak serta berbagai pertunjukan panggung memukau untuk melengkapi semarak MTQ Nasional XXXI.

Agustina menegaskan bahwa partisipasi aktif dari kalangan pelajar, seniman, komunitas, dan masyarakat umum memegang peran krusial agar gaung semangat MTQ bisa menggema lebih luas.

“MTQ harus menjadi milik bersama. Anak-anak, pelajar, seniman, komunitas, masyarakat, dan para kafilah dari berbagai daerah semuanya harus bisa merasakan semangat MTQ. Kita ingin Al-Qur’an hadir melalui kompetisi, seni, literasi, kreativitas, dan kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” katanya.

Untuk memperkuat syiar seni Islami, panitia secara khusus menggelar Lomba Rebana Tingkat Nasional. Kompetisi bergengsi ini akan mengambil tempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) pada 16 hingga 17 September 2026.

Sang Wali Kota menjelaskan bahwa kesenian rebana memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan tradisi masyarakat Muslim Nusantara. Alunan rebana berfungsi sebagai wujud ekspresi seni sekaligus sarana pemersatu yang merekatkan tali persaudaraan berbagai kelompok dari seluruh penjuru daerah.

“Rebana adalah bagian dari tradisi keislaman yang tumbuh kuat di tengah masyarakat. Melalui Lomba Rebana Tingkat Nasional, kita ingin memberikan ruang bagi seni Islami untuk berkembang sekaligus mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai daerah. Ada silaturahmi, ada kreativitas, dan ada semangat untuk bersama-sama menjaga tradisi,” ungkapnya.

Rentetan festival budaya dan pergelaran seni ini mencerminkan totalitas Kota Semarang dalam menjamu para kafilah dan tamu kehormatan MTQ Nasional. Pemerintah kota sukses meramu warisan tradisi lokal, nilai seni Islami, gerakan literasi, dan kreativitas warga menjadi satu kesatuan harmoni untuk menghidupkan ruang-ruang publik di seluruh penjuru kota.

Menutup keterangannya, Agustina mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turun ke jalan dan meramaikan berbagai rangkaian acara bersama para tamu yang singgah di Kota Atlas.

“Kami ingin MTQ Nasional XXXI meninggalkan kesan yang baik. Semarang adalah kota yang religius, terbuka, kaya budaya, kreatif, dan ramah kepada siapa pun. Monggo, sedulur-sedulur dari seluruh Indonesia datang ke Semarang. Kita sambut bersama MTQ ini dengan kegembiraan, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia,” pungkasnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA