
NALARMEDIA.COM – Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang mencatat capaian dalam peringatan HUT ke-56 melalui penyelenggaraan Penyuluhan Massal Penanganan Gigitan Ular atau snakebite yang berhasil meraih Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan momentum World Snakebite Awareness Day yang diperingati setiap 17 September. Selain menjadi bagian dari rangkaian HUT RSI Sultan Agung ke-56, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat edukasi dan jejaring penanganan kasus toksikologi di Indonesia.
Kegiatan mendapat dukungan dari Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Pakar toksikologi, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.E.M., Subsp.Tok.(K), FICEP, FIMMA, yang merupakan Ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa, Tanaman Beracun, Penyakit Tidak Menular, serta Toksikologi Kemenkes RI, turut memberikan edukasi mengenai penanganan kasus gigitan ular.
Selain membahas penanganan gigitan ular, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman mengenai kegawatdaruratan toksikologi medis, termasuk manajemen kasus keracunan yang berkaitan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG).
RSI Sultan Agung Jadi Mitra Strategis Kemenkes
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan kesepakatan bersama yang menetapkan RSI Sultan Agung Semarang sebagai mitra strategis Kemenkes RI dalam penanganan kasus gigitan ular dan toksikologi.
Kerja sama tersebut melibatkan sinergi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat jejaring rujukan serta mempercepat penanganan kasus gigitan ular dan toksikologi, baik di tingkat regional maupun dalam jejaring yang lebih luas.
Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa, mengatakan capaian tersebut diharapkan semakin memperkuat kepercayaan diri seluruh civitas hospitalia.
Menurutnya, kepercayaan diri dan kekuatan internal menjadi fondasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan, dan penelitian di lingkungan RSI Sultan Agung.
Dengan penguatan tersebut, RSI Sultan Agung diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah di bidang kesehatan sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
YBWSA Dorong Edukasi Kesehatan Semakin Luas
Ketua Umum YBWSA, Prof. Dr. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H., menegaskan dukungan YBWSA terhadap pengembangan RSI Sultan Agung, termasuk dalam memperluas akses pendidikan kesehatan.
Pendidikan tersebut tidak hanya ditujukan bagi tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum melalui berbagai bentuk edukasi kesehatan.
Sebagai bagian dari ekosistem YBWSA yang menaungi berbagai lembaga pendidikan dan unit usaha, RSI Sultan Agung juga membuka peluang kolaborasi dengan organisasi masyarakat, lembaga pemerintah maupun sektor swasta.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap pengembangan layanan dan edukasi kesehatan masyarakat.
Perkuat Peran RSI Sultan Agung
Raihan Rekor MURI dan terjalinnya kemitraan dengan Kemenkes RI dalam bidang toksikologi menjadi bagian dari upaya RSI Sultan Agung memperluas perannya di sektor kesehatan.
Tidak hanya sebagai fasilitas pelayanan medis, RSI Sultan Agung juga mendorong penguatan fungsi edukasi, penelitian, dan pengembangan jejaring kesehatan.
Melalui kegiatan penyuluhan massal penanganan gigitan ular tersebut, edukasi mengenai pertolongan dan penanganan kasus toksikologi diharapkan semakin dipahami masyarakat maupun tenaga kesehatan.(**)